Prospek Stabil, BREN Kantongi Peringkat idAA- dari Pefindo
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga pemeringkat efek, Pefindo menyematkan rating idAA- kepada PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) dengan prospek stabil. Peringkat ini berlaku hingga Februari 2025.
Analis Pefindo Kresna Wiryawan dan Aishantya menyebut, peringkat terbaru ini mencerminkan posisi pasar perusahaan yang sangat kuat, visibilitas pendapatan yang solid, dan keuntungan dari komitmen Pemerintah dalam mendukung perkembangan energi terbarukan yang kuat.
‘’Kendati begitu leverage keuangan yang moderat dan paparan terhadap risiko geologi dapat membatasi peringkat tersebut,’’ ulas Analis Pefindo dalam laporan yang dikutip, Senin (25/3/2024).
Lebih lanjut dikatakan, peringkat dapat dinaikkan jika BREN memperkuat bisnisnya dengan meningkatkan kapasitas terpasang secara signifikan, serta mempertahankan faktor ketersediaan dan kapasitas yang tinggi untuk seluruh asetnya.
Baca Juga
Saat Harga Terjungkal, Ada Investor Asing Crossing Beli Saham Barito (BRPT) Rp 315,24 Miliar
Langkah tadi juga harus diimbangi dengan perbaikan profil keuangan yang berkelanjutan melalui upaya deleveraging dan perolehan arus kas yang lebih tinggi.
Sebeliknya, peringkat dapat diturunkan jika profil keuangan perusahaan mengalami penurunan yang secara berkelanjutan akibat utang yang lebih tinggi dari yang diproyeksikan tanpa dikompensasi oleh arus kas yang lebih kuat.
Sebagai catatan, BREN yang dikendalikan oleh konglomerat Prajoko Pangestu, berdiri pada tahun 2018, BREN (sebelumnya bernama PT Barito Cahaya Nusantara) merupakan perusahaan induk milik PT Barito Pacific Tbk.
Perusahaan ini bergerak dalam bidang pembangkit listrik energi terbarukan, termasuk bisnis tenaga panas bumi, melalui aset operasinya di Wayang Windu, Salak, dan Darajat.
Per 31 Desember 2023, pemegang saham Perusahaan terdiri dari PT Barito Pacific Tbk (64,7%), Green Era (23,6%, sepenuhnya dimiliki oleh Prajogo Pangestu), dan publik (11,7%).
Baca Juga
Sebelumnya, BREN melaporan peningkatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 17,87% menjadi US$ 107,41 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 91,12 juta.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini sebesar 4,4% dari US$ 569,78 juta menjadi US$ 594,93 juta.
Sedangkan beban keuangan melesat dari US$ 85,07 juta menjadi US$ 136,48 juta tahun 2023. Pendapatan bunga naik dari US$ 2,88 juta menjadi US$ 11,39 juta.
“Selain mencatat pertumbuhan kinerja keuangan, kami juga berhasil menuntaskan penawaran umum perdana (IPO) saham dengan raihan dana senilai US$ 200 juta dan mendiversifikasi portofolio di luar panas bumi melalui akuisisi aset pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB)," ujar Dirut BREN Hendra Soetjipto dalam penjelasan resminya di Jakarta, Selasa (19/3/2024).
Terkait penyumbang kinerja tahun 2023, dia mengatakan, didukung peningkatan produksi listrik panas bumi sebanyak 3,4%. Kenaikan juga didukung pertumbuhan tarif listrik dari Salak, Drajat, dan Wayang Windu.
“Ke depan, kami tetap menjalankan rencana ekspansi untuk mengoperasikan kapasitas sebesar 1.300 MW tahun 2028. Target ini akan dicapai melalui pengembangan unit-unit baru di wilayah operasi panas bumi yang sudah ada dan pengembangan kawasan greenfield energi panas bumi maupun tenaga angin,” terangnya.

