Inflasi AS Negatif di Bulan Juni, Bitcoin Sempat Melonjak di Atas US$ 59.000-an
JAKARTA, investortrust.id - Kenaikan harga Bitcoin (BTC) hanya berlangsung singkat karena investor dinilai tidak cukup percaya diri agar koin kripto nomor wahid itu dapat memperoleh kembali level psikologisnya US$ 60.000.
Menilik data Coinmarketcap, Jumat (12/7/2024) pukul 07.15 WIB pemimpin kapitalisasi pasar kripto ini diperdagangkan di US$ 57.290, turun 0,45% dalam sehari. Sementara Ethereum naik tipis sebesar 0,26%, diperdagangkan sekitar US$ 3.102.
Kapitalisasi pasar kripto global tercatat US$ 2,12 triliun, turun 0,52% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 67,61 miliar, meningkat 8,94%. Total volume di DeFi saat ini US$ 4,02 miliar, 5,94% dari total volume pasar kripto 24 jam. Volume semua koin stabil sekarang mencapai US$ 62,98 miliar, yang merupakan 93,16% dari total volume pasar kripto 24 jam. Dominasi Bitcoin saat ini sebesar 53,39%, turun 0,02% sepanjang hari.
Sebagai informasi, inflasi Amerika Serikat (AS) yang diukur dengan indeks harga konsumen turun 0,1% dari Mei hingga Juni. Menempatkan tingkat inflasi 12 bulan sebesar 3%, mendekati level terendah dalam lebih dari tiga tahun, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
Harga BTC melonjak menjadi US$ 59.200-an dalam beberapa menit setelah laporan tersebut, lebih dari 3% selama 24 jam terakhir.
Baca Juga
Harga Bitcoin Berpeluang Naik ke Level US$ 60.000, Simak Sederet Faktor Pendorongnya
Para pelaku pasar pun semakin menyadari gagasan bahwa Federal Reserve AS (The Fed) pada akhirnya akan memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan pertengahan September. Alat CME FedWatch memperkirakan kemungkinan terjadinya hal ini lebih dari 70% dibandingkan kurang dari 50% pada satu bulan yang lalu.
Ada anggapan bahwa Ketua Fed Jerome Powell bersusah payah untuk tidak mengkonfirmasi atau menyangkal dalam dua hari kesaksian Kongres awal pekan ini.
Dalam kesaksiannya tersebut, Powell mengakui melemahnya pasar tenaga kerja dan bahwa The Fed semakin fokus pada risiko-risiko negatif terhadap perekonomian. Namun, ia menegaskan kembali seperti yang telah ia dan anggota Fed lainnya lakukan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan bahwa bank sentral menginginkan konfirmasi lanjutan bahwa inflasi kembali ke target 2% sebelum penurunan suku bunga dapat benar-benar dipertimbangkan.
Mengutip Coindesk, Jumat (12/7/2024) Bitcoin berada di bawah tekanan besar selama beberapa minggu terakhir sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 73.500 pada akhir kuartal pertama 2024. Pada kuartal kedua terjadi perlambatan arus masuk dan bahkan kadang-kadang arus keluar bersih yang cukup besar ke ETF spot yang berbasis di AS.
Baca Juga
Kemudian pada akhir Juni hingga awal Juli, membanjirnya pasokan dari penjualan kepemilikan pemerintah dan pengembalian token Mt. Gox sempat menyebabkan harga jatuh hingga di bawah US$ 54.000, hampir 27% di bawah rekor tertinggi tersebut.
Jatuhnya Bitcoin mungkin akan lebih membuat frustasi para pembeli karena aset-aset berisiko lainnya yang bersaing, yaitu saham AS terus melonjak lebih tinggi sepanjang musim panas.

