Belum Ada BUMN di Pipeline IPO, Bos BEI: Mungkin Tahun Depan
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan hingga saat ini belum ada perusahaan BUMN yang masuk dalam pipeline pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) yang dijadwalkan dilakukan pada tahun ini.
“BUMN belum ada,” ujar Iman di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Sementara itu, Iman mengatakan bahwa kemungkinan perusahaan BUMN tersebut melakukan sikap wait and see pada pemerintahan baru. Ia berharap, tahun depan akan ada perusahaan BUMN atau anak perusahaan yang melakukan IPO di BEI.
“Tunggu ya, wait and see pada pemerintahan baru. Tapi kita harapkan mungkin tahun depan mungkin ada BUMN atau anak BUMN yang akan IPO,” tuturnya.
Baca Juga
Miliaran Saham GOTO Ludes hanya 15 Menit Usai BEI Dibuka, Order Jual 'Gocap' Berakhir
Di samping itu, Iman mengatakan bahwa saat ini pipeline IPO yang tercatat di BEI hingga saat ini terdapat 30 perusahaan. BEI berharap bahwa target IPO pada awal tahun ini dapat tercapai.
“Sekarang di pipeline kita masih ada 30an, kita berharap seperti di awal tahun, target kita 60an. Saat ini dengan 32 mudah-mudahan kita bisa achieve target kita di akhir tahun di 62 (perusahaan),” harap Iman.
Sementara itu, menurut data BEI, hingga 10 Juli 2024, telah terdapat 32 Perusahaan Tercatat. Sedangkan hingga 5 Juli 2024 terdapat 24 perusahaan sedang dalam antrian (pipeline) pencatatan perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Dari angka tersebut sebanyak 15 perusahaan dengan aset skala menengah sebesar Rp 50 miliar-250 miliar mendominasi dan 6 perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menargetkan jumlah perusahaan tercatat di bursa pada 2024 akan bertambah 62 perusahaan.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 28 Juni 2024 nilai penawaran umum sebesar Rp 120 triliun dengan 26 emiten baru. Sementara itu, masih terdapat 103 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 30,02 triliun. (CR-4)

