Minyak Menguat Dipicu Komentar Optimis Saudi dan Rusia di Awal Pekan, Ini Rentang Harganya
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (10/6/2024) harga minyak terpantau bergerak bullish didukung oleh komentar optimis dari Arab Saudi dan Rusia akan pertumbuhan pasar minyak global ke depan. Meski demikian, sinyal pemulihan pasokan melalui jalur pipa Irak - Turki membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 73 per barel," tulis riset ICDX, Senin (10/6/2024).
Dalam acara St. Petersburg International Economic Forum yang diadakan pekan lalu, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengumumkan bahwa Arab Saudi berencana meningkatkan kapasitas produksi minyaknya menjadi 12,3 juta bph dalam waktu empat tahun. Namun, upaya peningkatan output itu akan dilakukan secara bertahap dan baru dimulai pada tahun 2025 nanti.
Komentar dari Pangeran Abdulaziz itu mengisyaratkan kemungkinan Saudi untuk tetap mempertahankan produksinya sementara waktu, atau tidak meningkatkan mulai bulan Oktober nanti sesuai kesepakatan yang diumumkan pada 2 Juni lalu.
Baca Juga
Harga Minyak Tertekan, Catat Penurunan Mingguan Ketiga Berturut-turut
Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, permintaan minyak global diproyeksikan akan tumbuh lebih dari 1 juta bph setiap tahun hingga tahun 2035, kata Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada pekan lalu. Pertumbuhan permintaan itu sejalan dengan peningkatan konsumsi di negara-negara Asia dan Afrika, terutama di sektor transportasi udara dan industri petrokimia.
Novak juga menambahkan bahwa dalam jangka pendek, OPEC+ perlu meningkatan pasokan, namun hal itu dilakukan untuk memastikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan, karena pasokan dari AS ke pasar telah turun mencapai 0,4-0,5 juta bph pada tahun ini, atau lebih kecil dibandingkan peningkatan tambahan permintaan di pasar.
Sentimen positif lainnya juga datang dari laporan terbaru jumlah rig minyak dan gas AS yang dirilis oleh perusahaan jasa energi, Baker Hughes, yang menunjukkan jumlah rig minyak turun sebanyak empat rig menjadi 492 rig dalam sepekan hingga tanggal 7 Juni, yang merupakan level terendah sejak Januari 2022. Laporan Baker Hughes ini biasanya dijadikan indikator awal untuk melihat gambaran produksi minyak AS di masa mendatang.
Baca Juga
China Tertarik Investasi di Proyek EOR, Pemerintah Harap Lifting Minyak Meningkat
Sementara itu, Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdel-Ghani pada hari Minggu mengatakan ada kemajuan positif dalam pembicaraan dengan pejabat wilayah Kurdistan dan perwakilan perusahaan internasional yang beroperasi di sana mengenai kesepakatan untuk melanjutkan ekspor minyak melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki. Berita tersebut mengindikasikan potensi kembali pulihnya aliran minyak sekitar 0,5% dari pasokan minyak global yang terhenti sejak jalur pipa minyak Irak - Turki ditutup pada 25 Maret 2023 lalu.

