RUPS Timah (TINS) Putuskan Rombak Direksi hingga Tak Bagikan Dividen
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) merombak susunan direksi. Perombakan tersebut diputuskan dalam Rapat umum pemegang saham (RUPS) perseroan yang digelar di Jakarta, kemarin.
RUPST memberhentikan dengan hormat Direktur Pengembangan Usaha Koko Wigyantoro dan Direktur Sumber Daya Manusia Tigor Pangaribuan. Posisinya digantikan Dicky Octa Zahriadi sebagai direktur pengembangan usaha dan Hendra Kusuma Wardana sebagai direktur sumber daya manusia.
Baca Juga
Dengan Asumsi Ini, Timah (TINS) Bisa Capai Laba Rp 1,09 Triliun di 2024, Bagaimana Sahamnya?
Selain perombakan direksi, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS Fina Eliani, pemegang saham menyetujui tidak membagikan dividen tahun buku 2023 akibat kerugian.
“Tahun lalu, perseroan membukukan rugi besar mencapai Rp 449 miliar. Oleh karena itu, perseroan memutuskan tidak membagikan dividen,” ungkap Fina dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Timah Tbk (TINS) Tahun Buku 2023 di Jakarta, Rabu (8/5/2024).
Terlebih lagi, terang dia, TINS memiliki kewajiban pembayaran utang obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada Agustus 2024.
Baca Juga
Timah (TINS) akan Balikkan Rugi Jadi Laba, Manajemen Ungkap Strategi Ini
Rugi bersih sejalan dengan penurunan pendapatan sebanyak 32,88% menjadi 8,39 triliun, dibandingkan periode sebelumnya Rp 12,5 triliun dengan EBITDA tercatat sebesar Rp 684,3 miliar.
Terkait prospek kinerja keuangan TINS tahun ini, manajemen perseroan sebelumnya menyebutkan, akan menerapkan strategi efisiensi operasional guna membalikkan rugi menjadi laba tahun 2024. Lompatan laba juga diharapkan datang dari kenaikan harga komoditas timah di pasar global.
Direktur Utama Timah (TINS) Ahmad Dani Virsal menyatakan, perseroan akan meningkatkan kinerja operasional bersamaan dengan efisiensi tahun 2024. Perseroan membidik kenaikan produksi timah menjadi 30.000 ton, dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai 14.885 ton.
Baca Juga
Dengan peningkatan produksi tersebut, dia mengatakan, pendapatan bertumbuh dan bisa kembali mencetak laba bersih. “Concern kita adalah produksi dan efisiensi yang bisa dikontrol, sehingga diharapkan cost turun dan margin naik,” papar Ahmad.
Tahun lalu, perseroan memproduksi sekitar 14.000 - 15.000 ton timah dengan rata-rata harga jual US$ 26 ribu per ton. Sedangkan target harga jual tahun ini diharapkan bertumbuh, seiring dengan tingginya permintaan global.
Grafik Saham TINS Ytd

