NIM Turun di Luar Dugaan, Target Keuangan dan Saham Bank Mandiri (BMRI) Dipangkas
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menunjukkan mulai menghadapi tantangan berat di tengah pengetatan likuiditas. Tantangan berat ini tercermin dari penurunan margin bunga bersih (NIM) sepanjang kuartal I-2024.
Bank pelat merah ini mencatatkan penurunan NIM dari 5,11% pada kuartal I-2023 menjadi 4,89% pada kuartal I-2024. Bahkan, angka tersebut turun drastic dari NIM akhir tahun 2023 sebanyak 5,25%. Meski demikian perseroan berhasil mempertahankan NPL sekitar 1,02%.
Baca Juga
Lampaui Industri, Kredit Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 19,1% di Kuartal I-2024
Koreksi NIM ini menjadikan pertumbuhan laba bersih perseroan melambat hanya 1,1% dari Rp 12,56 triliun pada kuartal I-2023 menjadi Rp 12,70 triliun pada kuartal I-2024. Bahkan, Angka tersebut turun drastic dari kuartal IV-2023 senilai Rp 15,99 triliun.
Pergerakan Saham BMRI Hari Ini
Penurunan NIM tersebut mendorong RHB Sekuritas Indonesia merevisi turun target harga saham BMRI dari Rp 8.240 menjadi Rp 8.160 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Revisi ini menggambarkan bahwa kinerja keuangan perseroan kuartal I-2024 tidak sesuai dengan harapan setelah NIM turun dalam.
Sedangkan hingga pukul 10.40 WIB pada perdagangan saham di Burs Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/5/2024), saham BMRI anjlok Rp 500 (7,25%) menjadi Rp 6.400. Bahkan, saham ini sempat merosot sampai ke Rp 6.300.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Chong mengatakan, revisi turun target harga tersebut juga mempertimbangkan keputusan manajemen BMRI memangkas target NIMN tahun ini menjadi 5,0-5,3%, dibandingkan perkiraan semula 5,3-5,5%.
“Realisasi laba bersih perseroan kuartal I-2024 baru merefleksikan 22% dari target tahun ini. Sedangkan sentiment negative utama dari kinerja ini adalah penurunan NIM perseroan di luar dugaan sejalan dengan peningkatan biaya pendaaan,” terangnya.
Baca Juga
Penurunan target harga tersebut juga merefleksikan penurunan proyeksi kinerja keuangan Bank Mandiri (BMRI) tahun ini. Proyeksi laba bersih direvisi turun dari Rp 58,92 triliun menjadi Rp 57,06 triliun. EPS perseroan juga direvisi turun dari Rp 631 menjadi Rp 611.
Meski demikian sentiment positif terhadap bank ini datang dari pertumbuhan kredit yang kuat mencapai 19% pada kuartal I-2024 didukung peningkatan permintaan kredit segmen korporasi. Sentimen positif lainnya adalah kualitas aset yang tetap terjaga dengan baik hampir saham dengan tahun lalu.

