Harga CPO Siap Menanjak Naik, Keuangan Emiten Sawit Diproyeksi Kinclong
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan emiten sawit diprediksi kinclong, ditopang tren penguatan kembali harga minyak sawit mentah (CPO). Harga komoditas ekspor unggulan Indonesia ini diproyeksi merambat naik lantaran berkurangnya produksi akibat fenomena cuaca kering El Nino menyebabkan musim kemarau berkepanjangan. Bahkan, analis global memperkirakan harga akan mencapai RM 4.334/ton dalam 12 bulan ke depan, dari saat ini sekitar RM 3.700-3.800/ton.
“Kami memprediksi kinerja keuangan emiten CPO akan mendapatkan dukungan dari naiknya harga minyak sawit, karena musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena cuaca kering El Nino. El Nino memang diperkirakan akan menekan kinerja operasional perkebunan sawit, tetapi terhambatnya produksi bakal membuat harga CPO dunia berpotensi terangkat karena penurunan produksi global,” kata Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan dalam diskusi bertajuk Heatwaves in the Market: High Fed Fund Rate and El Niño Impact to Commodities di Jakarta, Selasa 12 September 2023.
Baca Juga
Sinar Mas Ungkap Potensi Minyak Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
Rizkia mengatakan, harga crude palm oil (CPO) sempat turun hingga sekitar RM 3.300/ton pada Juni 2023, tetapi kemudian naik kembali hingga awal bulan ini. Hal itu juga dikarenakan masih lebih rendahnya harga CPO dibanding minyak nabati lain seperti minyak rapa (rapeseed), minyak kedelai, dan minyak biji matahari, sehingga ada kemungkinan mendorong permintaan CPO meningkat.
“Awal tahun ini, rata-rata harga CPO berada pada kisaran RM 3.900/ton dan kemudian turun sekitar 12%, bahkan sempat hingga sekitar RM 3.300/ton di Juni 2023. Tetapi kini sudah naik kembali menjadi sekitar RM 3.800/ton beberapa hari terakhir,” kata Rizkia.
Sementara itu, sebagaimana dikutip Trading Economics, para analis global memperkirakan harga CPO akan menguat mencapai lebih dari RM 3.950/ton pada akhir kuartal III ini. Hal ini antara lain dipengaruhi perkembangan ekonomi Tiongkok yang menunjukkan tanda-tanda stabilisasi ekonomi menguat di tengah berkurangnya tekanan deflasi, data kredit yang kuat pada Agustus lalu, dan upaya Bank Sentral China mempertahankan yuan yang lemah.
Rizkia menuturkan, sebagian besar emiten minyak sawit akan menerima dampak positif dari kenaikan harga komoditas yang masuk dalam kategori bahan makanan (soft commodity) itu.
Faktor Pemerintah
Rizkia memperkirakan, dampak El Nino diprediksi masih akan terjadi dan membuat harga CPO naik lagi hingga akhir tahun ini. Namun demikian, sangat kecil kemungkinan akan kembali ke atas level RM 4.600/ton atau sekitar US$ 1.000/ton seperti pada tahun 2021-2022.
Di sisi lain, lanjut Rizkia, ada beberapa risiko yang dihadapi produsen minyak sawit. Ini seperti besaran produksi yang akan terganggu karena efek cuaca El Nino, serta faktor kebijakan pemerintah untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng domestik di tengah kenaikan harga CPO global.
“Efek dari kenaikan harga CPO juga akan terjadi pada beberapa emiten CPO yang menjadi lingkup riset Mirae Asset. Beberapa emiten yang di-cover adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dengan rekomendasi trading buy dengan target price Rp 1.180 untuk 12 bulan ke depan,” paparnya.
Selain itu, pihaknya merekomendasi hold PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan TP Rp 8.250 dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS).
Imbas Positif ke Nikel
Dampak dari El Nino, imbuh Rizkia, juga berdampak positif terhadap sektor komoditas tambang dan energi (metal dan mining commodity). Kinerja perusahaan di industri nikel akan lebih diuntungkan untuk rentang jangka panjang. “Secara jangka panjang, produsen nikel dan industri terkaitnya akan diuntungkan dari strategi hilirisasi (downstreaming) Indonesia, terutama terkait industri kendaraan listrik yang sangat tergantung dari baterai. Nikel ini merupakan bahan baku utama untuk baterai yang bagus,” tandasnya.
Sedangkan untuk kinerja keuangan perusahaan di industri batu bara relatif netral. Emiten batu bara diprediksi akan mengalami peningkatan produksi, tetapi di saat yang sama akan mengalami penurunan kinerja keuangan karena pelemahan harga si emas hitam secara global.
Dampak Inflasi
Sedangkan Senior Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyoroti peningkatan harga komoditas dunia -- termasuk CPO dan minyak dunia -- berpotensi menyebabkan kenaikan inflasi global. Hal ini juga akan sangat berdampak kepada negara-negara maju yang masih berusaha menurunkan inflasi tingginya.
“Untuk Indonesia, menjadi salah satu negara yang dinilai sukses meredam inflasi. Indonesia diprediksi masih dapat meredam laju inflasi, yang diprediksi bisa berada pada 5,25% hingga akhir tahun ini. Namun, pengendalian inflasi masih menjadi isu utama negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Euro Zone,” ucapnya.
Tingginya inflasi di negara maju juga dapat kembali diperburuk oleh kenaikan harga komoditas dan minyak dunia, yang dapat berdampak terhadap arah kebijakan moneter di negara-negara tersebut. Rully mengatakan masih terbuka kemungkinan Bank Sentral AS akan menaikkan kembali suku bunga kebijakan mereka (FFR) mengingat inflasi masih berada jauh di atas target 2%.
Hal ini diprediksi masih akan memicu volatilitas pasar global, yang juga berdampak kepada pasar finansial di Indonesia. Menurut Rully, tekanan terhadap rupiah juga masih akan tetap tinggi, apalagi disertai dengan sentimen negatif terhadap emerging market karena memburuknya kondisi ekonomi Tiongkok.
Dalam memitigasi risiko tekanan terhadap rupiah, ia menilai, BI bersama pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor finansial di dalam negeri dan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Hal ini dapat memitigasi risiko fluktuasi di masa yang akan datang.

