OJK: 78 Perusahaan Antre IPO, Target Dana Rp 11,12 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sebanyak 78 perusahaan sudah masuk dalam daftar atau pipeline penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham hingga kini. Total dana yang bakal dibidik mencapai Rp 11,12 triliun.
Jumlah pendaftaran tersebut telah melampaui target Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan target pencatatan 62 saham baru sampai akhir 2024. Sementara secara keseluruhan, OJK menyebut ada 123 penawaran umum dalam pipeline dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 59,68 triliun.
Baca Juga
Atlantis Subsea Indonesia (ATLA) Tetapkan Harga IPO Rp 100 per Saham
Hal itu diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan, Selasa (2/4/2024).
Selain dari IPO saham, sumber penghimpunan dana dalam pipeline dimaksud juga meliputi penawaran umum terbatas (PUT) dengan nilai indikatif Rp 18,47 triliun. Ada pula 9 efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) di dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp 8,06 triliun.
Terakhir, ada 23 penawaran umum bersama (PUB) EBUS dengan nilai total Rp 22,04 triliun.
“Antusiasme penghimpunan dana di pasar modal juga masih terlihat. Tercatat nilai penawaran umum sebesar Rp 48 triliun dengan emiten baru tercatat mencapai 15 saham hingga 28 maret 2024,” sambung Inarno.
Pada kesempatan yang sama, pasar saham domestik sampai 28 Maret 2024 melanjutkan tren penguatan dengan IHSG menguat 0,22% (year to date/ytd) ke level 7.288,81.
Baca Juga
Nilai kapitalisasi pasar saham pun berada di kisaran Rp 11.692 triliun, naik 0,15% (ytd). Pada periode sama, BEI membukukan net buy Rp 28,28 triliun. Sedangkan secara likuiditas, rata-rata nilai transaksi pasar saham tercatat sebesar Rp 10,9 triliun (ytd).
“Pasar obligasi dengan indeks pasar obligasi ICBI menguat 1,14% (ytd) ke level 378,88. Sementara itu di industri pengelolaan investasi, nilai AUM pengelolaan investasi per 27 maret 2024 tercatat sebesar Rp 818,17 triliun atau turun 0,8% (ytd),” jelas Inarno.
Di sisi lain, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp 488,73 triliun rupiah atau turun 2,54% (ytd) dan net redemption sebesar Rp 29,95 triliun pada Maret 2024. (CR-10)

