Gara-gara Ini, Rekomendasi Hold Saham Pertamina Geothermal (PGEO)
JAKARTA, Investortrust.id – Torehan laba bersih PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sepanjang kuartal III-2023 diprediksi turun sebanyak 10,6% menjadi US$ 36 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan dipicu atas adanya perbaikian atau maintenance pembangkit Kamojang Unit 2 dan Lahendong Unit I.
“Hal ini mendorong kami untuk merevisi turun rekomendasi saham PGEO dari beli menjadi netral dengan target harga Rp 1.500. Target harga tersebut mempertimbangkan valuasi EV/EBITDA tahun 2024 sekitar 12,7 kali atau lebih tinggi dari rata-rata emiten sejenis global sekitar11,3 kali,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Ekspansi Kapasitas dan Kenaikan Harga Jual Listrik, Jaminan Prospek Pertamina Geothermal (PGEO)
Terkait dengan estimasi laba bersih perseroan sepanjang tahun ini, Mandiri Sekuritas, justru merevisi naik target laba bersih berkisar 9,2% tahun ini dan sebesar 18,7% tahun depan. Kenaikan target harga tersebut merefleksikan kenaikan harga pembelian listrik oleh PLN.
Target laba bersih perseroan tahun ini direvisi naik dari semula US$133 juta menjadi US$ 146 juta. Perkiraan pendapatan perseroan juga direvisi naik dari US$ 391 juta menjadi US$ 409 juta.
Sementara itu, Analis Sucor Invest Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan dalam riset sebelumnya menyebutkan ekspansi kapasitas pembangkit geothermal Pertamina Geothermal (PGEO) dari 672 MW menjadi 1.272 MW pada 2027 akan menjadi faktor pendongkrak pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.
Baca Juga
Usai 9 Hari Terbang, Saham Barito Renewables (BREN) Akhirnya Terkoreksi
Perseroan juga didukung oleh tren penguatan pendapatan dan margin keuntungan, seiring dengan adanya peningkatan harga pembelian listrik perseroan secara berkala oleh PT Pembangkit Listrik Negara (PLN).
PGEO merupakan perusahaan pembangkit geothermal terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas pembangkit sebanyak 672 MW dan ditargetkan melesat menjadi 1.272 MW pada 2027. Penambahan kapasitas tersebut akan menghabiskan belanja modal sekitar US$ 2,3 miliar.
Dengan demikian, pertumbuhan rata-rata kapasitas pembangkit perseroan mencapai 14% per tahun untuk periode 2022-2027. Dengan kapasitas tersebut, PGEO diprediksi mampu untuk menghasilkan 11 miliar KWh per tahun. Angka tersebut setara dengan 9% dari total kapasitas pembangkit geothermal dunia.

