Turun Usai Cum Dividen, Apakah Saatnya Borong Saham BRI (BBRI)?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mendadak terkoreksi sebanyak 7,11% pekan ini usai cum dividen akhir pekan lalu. Saham BBRI turun dalam setelah mencapai level tertinggi baru (all time high/ATH) pada akhir pekan lalu Rp 6.400. Lalu, bagaimana prospek selanjutnya?
Faktor utama koreksi dalam saham tersebut adalah berakhirnya cum dividen BBRI pada 8 Maret 2024, saat itu harga saham BBRI ditutup melesat ke level ATH Rp 6.400. Penurunan saham BBRI pekan lalu mencapai Rp 425 (7,11%) dari Rp 6.400 menjadi Rp 5.975.
Baca Juga
Jangan Ketinggalan THR dari BRI, 13 Maret 2024 Jadi Cum Date Dividen Saham BBRI
Dengan demikian penurunan harga saham BBRI lebih tinggi, dibandingkan dividen yang akan didapatkan pemegang saham senilai Rp 235 pada 28 Maret 2024.
RUPST BBRI sebelumnya menetapkan total dividen tahun buku 2023 mencapai Rp 48,10 triliun atau sebesar Rp 319 per saham. Jumlah tersebut termasuk dividen interim yang telah dibagikan pada 18 Januari 2024 sebesar Rp 12,66 triliun atau Rp 84 per saham, sehingga sisanya Rp 235 yang dibagikan pada 28 Maret 2024.
Analis Mandiri Sekuritas Boby Chandra dan Kresna Hutabarat dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu tetap optimistis terhadap penguatan harga saham BBRI ke level Rp 6.700, sehingga saham bank dengan aset terbesar ini dipertahanakn beli.
Baca Juga
Kembali Cetak ATH, Market Cap BRI (BBRI) Menuju Rp 1.000 Triliun
Mandiri Sekuritas menyebutkan target harga saham tersebut mempertimbangkan peluang berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan. Hal ini terungkap dari penjelasan manajemen BBRI pada Mandiri Investment Foru 2024, yaitu BRI menargetkan pertumbuhan kredit 11-12%, NIM diperkirakan tetap tinggi 7,9-8%, biaya kredit (CoC) terkendali 2,2-2,3%, dan target NPL terkendali 2,7-2,9%.
Terkait pertumbuhan kredit, Mandiri Sekuritas menyebutkan, BBRI optimistis dukungan dari segmen korporat, segmen miktro, UKM, dan konsumer. Perseroan juga meyakini peningkatan yield kredit usaha kecil yang diharapkan membuat NIM tetap kuat.
Begitu juga dengan simpanan BRI diharapkan tetap kuat, meskipun diperkirakan mengalami peningkatan tahun ini. Meski demikian rata-rata biaya simpanan perseroan diperkirakan masih lebih rendah, dibandingkan bank lainnya.

