Laba Anjlok 91%, Saham Emiten Mineral Kongsi Salim – Medco (AMMN) Tertekan
JAKARTA, investortrust.id – Emiten tambang emas dan mineral PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) harus pasrah menerima aksi jual pelaku pasar di pasar saham, akibat penurunan kinerja keuangan kuartal III-2023.
Dipantau pada perdagangan saham Bursa Efek Indonesia, Rabu (1/11/2023), saham AMMN melorot 50 poin dari harga pembukaan perdagangan saham pagi ini ke level 6.475. Penurunan saham AMMN terjadi beruntun sejak perdagangan kemarin.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal III-2023 yang dipublikasikan, perusahaan hasil kongsi Medco Group dan Salim tersebut tercatat mengalami penurunan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepemilik entitas induk sebesar 91% menjadi US$ 62,67 juta, dari US$ 744,97 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Pendapatan Garuda (GIAA) Terbang 48,37%, Rapor Bottom Line Masih Merah
Manajemen AMMN menyebut, tekanan terhadap laba bersih disebabkan oleh kenaikan beban biaya serta penurunan pendapatan yang disebabkan tertundanya izin ekspor mineral.
Disampaikan, penjualan bersih AMMN tercatat turun menjadi US$ 1,15 miliar dari US$ 1,97 miliar. Segmen tembaga menjadi penyumbang pendapatan paling besar US$ 697 miliar, dibanding penjualan emas sebesar US$ 453 miliar. Sedangkan laba kotor tercatat turun menjadi US$ 501 juta dari US$ 1,12 miliar.
Direktur Utama AMMAN, Alexander Ramlie, mengatakan, pihaknya baru mendapat izin ekspor pada 24 Juli 2023. ‘’Setelah itu kinerja penjualan kami pada kuartal III-2023kembali normal, di mana kami mempercepat pengiriman konsentrat untuk mengejar kehilangan penjualan,’’ paparnya dalam keterangan tertulis yang dikutip, Rabu (1/11/2023),
Lebih lanjut dikatakan pihaknya harus menanggung beban biaya yang lebih tinggi untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan pemerintah, antara lain akibat tertundanya penerbitan izin ekspor dan berbagai peraturan baru, seperti kenaikan bea keluar menjadi 10%, denda smelter, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak IUPK1.
Baca Juga
‘’Kami juga wajib menyisihkan 30 % pendapatan ekspor setiap bulannya untuk ditempatkan ke dalam rekening khusus, paling singkat tiga bulan sesuai aturan baru dari Bank Indonesia. Kami juga memastikan strategi pembiayaan yang telah dikalibrasi ulang untuk mendukung berbagai perubahan peraturan dan laju belanja modal untuk proyek-proyek ekspansi,” kata imbuh Direktur Keuangan AMMAN, Arief Sidarto,
Terkait EBITDA, AMMAN mencatat sebesar US$ 263 juta pada kuartal III-2023, turun 17% dari US$317 juta pada kuartal III-2022. Penurunan dari tahun ke tahun ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya pemrosesan bijih stockpiles dengan kadar lebih rendah dan bea keluar yang lebih tinggi.
‘’Namun, jika dibandingkan dengan semester I-2023, EBITDA AMMAN di per kuartal III-2023 berada di posisi yang lebih baik karena kami telah dapat melakukan penjualan konsentrat,’’ urainya.

