Kala Investor Dilanda Ragu soal Prospek Bitcoin
JAKARTA, investortrust.id - Kepala penelitian kripto Standard Chartered, Geoff Kendrick pernah menulis, nilai bitcoin bisa melesat hingga menggapai posisi $100.000 pada akhir 2024. Bahkan mentor Bitcoin kawakan, Chamath Palihapitiya, pernah sesumbar, Bitcoin telah menggantikan emas. Ia juga yakin bahwa harga Bitcoin bisa melambung hingga $200.000.
Belakangan Chamath Palihapitiyaberbalik arah. Ia memvonis dengan uangkapan keras: "Kripto sudah mati di Amerika," ujar Chamath Palihapitiya.
Terlepas dari pandangan yang berseberangan itu, harga bitcoin pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) bertengger pada posisi $25.774. Itu artinya, telah terjadi lonjakankan hingga 55% dari posisi awal tahun berkisar $16.606.
Baca Juga
Investor Tembus 17 Juta, OJK Segera Siapkan Master Plan Bursa Kripto
Kenaikan yang signfikan ini memperlihatkan Bitcoin masih cukup menjanjikan peluang bagi investornya. Namun, keraguan akan tetap muncul jika melihat performa harga Bitcoin yang pernah dicapainya.
Faktanya, dalam rentang yang sama, harga Bitcoin masih lebih rendah sekitar 62% dari harga tertingginya sekitar $68.990 yang dibukukan November 2021.
Para investor berpandangan, kerap terjadi pergerakan bitcoin mengikuti pergerakan saham. Namun tak jarang Bitcoin diperdagangkan secara berlawanan dengan saham. Itu terjadi karena asset ini dianggap sebagai tempat perlindungan kala terjadi ketidakpastian.
Baca Juga
Sebagian investor tetap optimis soal peluang Bitcoin sdetelah pengadilan Amerika Serikat mendukung pialang kripto Grayscale, yang menggugat otoritas pasar modal AS, Securities Exchange Comission (SEC).
Sebelumnya SEC menolak aplikasi para pialang untuk mengubah trust bitcoinmenjadi ETF. Pasca gugatan itu, ETF bitcoin dari para pialang besar akan ditermbitkan. Kondisi ini memungkinkan investor ritel untuk berdagang kripto ini tanpa benar-benar memilikinya.
Sebagaimana dilaporkan CNBC International, pasca gugatan itu, harga Bitcoin melonjak lebih dari 7%.
Baca Juga
Pada sisi lain, akibat SEC menunda keputusan mengenai ETF bitcoin, hal itu mematikan momentum kebangkitan harga bitcoin. Bahkan selama Agustus lalu, harga bitcoin turun 10%.

