Saham TKIM, INKP, MEDC, hingga AALI Diprediksi Menguat di Tengah Tren Pelemahan IHSG
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal masih akan mengalami pelemahan terbatas dalam rentang level 7.140 – 7.200 pada perdagangan, Kamis (4/4/2024).
Di tengah tren pelemahan IHSG, Tim Riset PT Phintraco Sekuritas merekomendasikan 6 saham sebagai pilihan utama untuk trading hari ini, yaitu saham PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Indah Kiat Pulp & paper Tbk (INKP).
Selanjutnya saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT PP London Sumatera Plantation Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
Phintraco Sekuritas menyampaikan, pada Rabu kemarin, IHSG mengalami break low pivot di level 7.200 dan ditutup pada level 7.166,844.
Sektor teknologi tercatat mengalami pelemahan paling signifikan dengan penurunan sebesar 1,48%. ‘’Pelemahan ini juga didukung oleh pelebaran negative slope pada MACD,’’ ulas Tim Riset PT Phintraco Sekuritas dalam riset harian yang dikutip, Kamis (4/4/2024).
Baca Juga
Namun, dikatakan, perlu diperhatikan bahwa indikator Stochastic RSI berada pada area oversold. ‘’Dengan demikian, IHSG memiliki peluang untuk melemah secara terbatas dalam rentang level 7.140 - 7200 pada hari Kamis (4/4/2024),’’ urainya.
Adapun sentimen yang bisa menjadi perharian pelaku pasar pekan ini, yaitu beberapa rilis data untuk kawasan Eropa. Pada Kamis (4/4/2024), dijadwalkan pertemuan tersebut akan membahas Kebijakan Moneter di kawasan Eropa.
Dikatakan, pasar menantikan hasil dari pertemuan ini karena diyakini akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada rilis data Indeks PMI Komposit dan PMI Jasa untuk kawasan Eropa, Inggris, dan Jerman. Data ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi perekonomian di wilayah-wilayah tersebut.
Baca Juga
Soho Global (SOHO) Terbitkan Corporate Guarantee ke Anak Usaha Rp 228 Miliar, Ini Tujuannya
Proyeksi neraca perdagangan AS untuk bulan Februari kembali menunjukkan defisit yang semakin melebar, diperkirakan mencapai US$ -68 miliar. Ini disebabkan oleh peningkatan impor yang berkelanjutan selama dua bulan terakhir, mencapai kisaran US$ 300 miliar, sementara ekspor cenderung stagnan sekitar kisaran US$ 250 miliar.
Di samping itu, proyeksi kenaikan klaim pengangguran awal menunjukkan tanda-tanda kehilangan pekerjaan yang semakin banyak, yang berpotensi menurunkan kepercayaan konsumen dan menghambat investasi bisnis. Faktor-faktor ini dapat mengakibatkan dampak negatif seperti peningkatan tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

