Divestasi Dua Anak Usaha Tuntas, Begini Dampak bagi Saham Antam (ANTM)
JAKARTA, investortrust.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam berhasil menuntaskan divestasi dua anak usaha guna memperkuat pengembangan proyek hilirisasi lebih lanjut. Sedangkan keuntungan yang didapatkan perseroan dari hilirisasi ini bisa mencapai Rp 599 miliar pada kuartal terakhir tahun lalu.
Antam sebelumnya telah menuntaskan pelepasan sebanyak 49% saham anak usahanya, PT Sumberdaya Arindo (SDA), kepada Ningbo Contemporary Bruno Lygend Co. Ltd. (CBL). Nilai divestasi ini mencapai US$ 416,5 juta atau setara Rp 6,42 triliun.
Perseroan juga sebelumnya menuntaskan divestasi sebagian saham Feni Haltim (FHT) ke Hong Kong CBL Limited (HKCBL) dengant otal Rp 781,2 miliar. Divestasi ini diperkirakan menciptakan one-off gain bernilai Rp 599 miliar pada kuartal IV-2023.
Baca Juga
Hari ini, Samcro Hyosung (ACRO) dan Manggung Polahraya (MANG) Listing Perdana, Pilih Mana?
“Kami menilai bahwa divestasi saham anak usaha tersebut akan berdampak positif terhadap perseroan. Melalui divestasi tersebut, perseroan dapat memasuki rantai pasok proyek pengembangan baterai mobil listrik,” terangnya dalam riset tersebut.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga Rp 1.960. Target harga tersebut juga mempertimbangkan proyeksi raihan laba bersih tahun lalu Rp 2,92 triliun dan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 3,16 triliun pada 2024.
Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra memperkirakan transasi energi ramah lingkungan menjadi penopang pertumbuhan permintaan nikel untuk produksi baterai mobil listrik. Permintaan nikel juga didukung ekspkpektasi pemulihan pasar properti China dengan ekspektasi mengerek permintaan besi nirkarat (stainless steel).
Peningkatan volume produksi baterai kendaraan listrik dan peluang peningkatan permintaan baja nirkarat untuk segmen properti diharapkan mengurangi surplus produksi nikel dunia.Meski demikian, surplus produksi nikel dunia diprediksi tak terhindarkan dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Harga Nikel Diprediksi Perlahan Membaik, Simak Target Saham INCO, MBMA, NCKL, dan ANTM
Surplus tersebut dipicu atas penambahan kapasitas produksi smelter yang mulai produksi tahun ini. Yang jelas, saat ini permintaan nikel masih menunjukkan penurunan, meski pemerintah telah meluncurkan insentif penjualan properti.
Terkait harga jual nikel, dia mengatakan, berpotensi menguat didukung upaya sejumlah negara untuk menstabilkan pasar properti, seperti yang telah dilakukan China dan Indonesia. Peluang kenaikan harga juga didukung mulai bangkit perlahan-lahan sektor infrastruktur China. Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan hold saham ANTM dengan target harga Rp 1.650.

