Potensi Cuan Saham Energi Mega (ENRG) masih Menggiurkan, Simak Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id – Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) masih menarik untuk dicermati dengan potensi penguatan harga pesat ke depan. Prospek yang kuat tersebut didukung sejumlah katalis positi dari aksi koporasi, akuisisi, dan kenaikan harga minyak dan gas (migas).
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Laurencia Hiemas dan Muhammad Farras Farhan mengatakan, perseroan telah menuntaskan empat transaksi sepanjang paruh pertama tahun ini. Aksi ini bisa menjadi sentiment positif terhadap saham ENRG.
Baca Juga
BNI Sekuritas Kawal Transaksi Aset Pertamina – Energi Mega Persada (ENRG)
“Seluruh aksi korporasi ini sebagai katalis terhadap penguatan saham ENRG ke depan. Perseroan juga mendapatkan dukungan dari kenaikan harga minyak dan gasyang diharapkan mendongkrak pendapatannya,” terangnya dalam riset yang diterbitkan, Jumat (20/10/2023).
Empat aksi korporasi yang direalisasikan perseroan pada paruh pertama 2024, yaitu akuisisi PT Sulawesi Regas Satu, yaitu perusahaan yang memiliki kontrak untuk menyewakan fasilitas FSRU kepada PLN Gas & Geothermal. Fasilitas tersebut dapat memasok hingga 24 mmcfd.
Baca Juga
Sejumlah Pendiri Buka Peluang Lepas Saham, GOTO Dibuka Anjlok
Perseroan juga telah meneken perjanjian PSC untuk mengoperasikan blok Bireun Sigli di Aceh dengan rencana anggaran belanja modal senilai US$ 36 juta untuk tiga tahun ke depan. Blok tersebut diperkirakan memiliki sumber daya sebesar 2.1 tcfd (gas) dan 359 mboe (minyak bumi).
Energi Mega (ENRG) juga telah menuntaskan akuisisi sebanyak 90% saham dan operatorship di blok KKS Siak dan blok KKS Kampar. Blok tersebut memiliki tingkat produksi gabungan sebanyak 2.200 –2.600 mbopd. Terakhir perseroan menyiapkan anggaran belanja modal US$ 10.07 juta untuk eksplorasi blok South CPP dan Tonga.
“Kami memperkirakan ENRG bisa memproduksi gas sebanyak 157 MMSCFD pada 2023 dan 173 MMSCFD pada 2024. Sedangkan produksi minyak bumi ditargetkan mencapai 6.6 mbopd pada 2023 dan 8,7 mbopd pada 2034. Adapun harga minyak diperkirakan berada dalam rata-rata US$ 85,26 per barel,” terangnya.
Baca Juga
IHSG Awal Transaksi Bergerak di Zona Merah, Saham BKDP, ASMI, dan NICL Melesat
Dengan sejumlah aksi korporasi tersebut, laba bersih perseroan diprediksi mencapai US$ 60 juta tahun ini, dibandingkan tahun lalu US$ 67 juta. Begitu juga pendapatan diprediksi turun dari US$ 452 juta menjadi US$ 427 juta. Penurunan dipicu atas pelemahan harga minyak dan gas (migas) beberapa bulan lalu.
Sedangkan saham ENRG dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 340. Dengan penutupan saham ENRG di level Rp 246, potensi penguatan saham ini masih besar sekitar 38,21%.
Estimasi Kinerja Keuangan ENRG
Sumber: Samuel Sekuritas Indonesia

