Delta Dunia Makmur (DOID) Prediksi Pendapatan Akan Melambat Tahun 2024, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Emiten tambang batu bara, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) membidik pendapatan sebesar US$ 1,52 miliar hingga US$ 1,72 miliar sepanjang tahun 2024.
Direktur PT Delta Dunia Makmur Tbk, Dian Andyasuri, mengakui, target pendapatan 2024 mengalami penurunan dari realisasi pendapatan DOID tahun 2023 yaitu sebesar US$ 1,83 miliar.
Sebagai catatan realisasi pendapatan DOID tahun 2023 tumbuh 18% secara year on year (yoy). Dian menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2023, site tambang di Indonesia dan Australia mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat.
Baca Juga
Genjot Produksi, DOID Alokasikan Belanja Modal US$ 190 Juta Tahun 2024
“Apabila sisi volume kita steady dan growing, maka di 2024 level harga coal akan ada seperti di tahun 2021, mengalami sedikit penurunan dan menjadi refleksi panduan pendapatan kita,” ungkap Dian dalam Media Briefing Full Year 2023 Result & ESG Performance, Selasa (19/3/2024).
Adapun dari target EBITDA, DOID membidik angka sebesar US$ 350 juta hingga US$ 450 juta pada tahun 2024. Angka ini juga turun dari capaian EBITDA tahun 2023 yang meningkat 13% yoy menjadi US$ 412 juta.
Sebagai catatan, sepanjang tahun 2023 DOID mencatatkan kinerja keuangan yang positif atau angka tertinggi sepanjang sejarah DOID. Laba bersih DOID pada tahun 2023 meningkat sebesar 26% ke angka US$ 36 juta.
Baca Juga
Arus kas operasional juga meningkat 91% yoy menjadi US$ 376 juta pada tahun 2023, yang mana diungkapkan Dian sebagai hasil dari pertumbuhan EBITDA, pengelolaan biaya yang efektif, dan pengelolaan modal yang hati-hati.
“Hal ini didorong oleh volume dan pendapatan yang lebih tinggi,” papar Dian.
Keberhasilan tersebut sebagian besar didorong oleh rekor overburden removal yang meningkat sebesar 14% yoy, dan volume produksi di Indonesia yang naik 10% yoy dan Australia naik 28% yoy, strategi manajemen biaya yang aktif, dan peningkatan diversifikasi ke batu bara metalurgi yang kini menyumbang 19% dari pendapatan.
Selain itu, hal tersebut juga didukung oleh peningkatan signifikan dari keberhasilan memperoleh sejumlah kontrak, termasuk tambang Saraji dan Burton milik BMA (BHP dan Mitsubishi Alliance) di Australia. (CR-4)

