Saham WSBP Anjlok 6%, Analis: Bisa Bangkit Seiring Perbaikan Kinerja Keuangan
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham emiten sektor konstruksi, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) terperosok dalam hingga sebesar -6,67% ke level Rp 14 pada perdagangan, Selasa (23/4/2024).
Sepanjang hari ini, saham WSBP tercatat sudah ditransaksikan sebanyak 32,80 juta lembar saham, dengan nilai transaksi Rp 45,93 juta. Sedangkan kapitalisasi pasarnya tercatat Rp 764 miliar.
Saat pasar ditutup, antrian order offer atau jual saham WSBP tercatat mencapai 720,42 ribu lot pada harga Rp 14 per saham, sedangkan order bid atau beli hanya sebesar 201 lot pada harga Rp 15 per saham.
Beberapa hari terakhir harga saham WSBP terpantau mengalami penurunan sebesar -22,22% dari Rp 18 pada tanggal 17 April 2024.
Bukan semata WSBP, saham-saham BUMN sektor konstruksi lain yaitu PT Adhi Karya Tbk (ADHI) juga tumbuh sebesar 0,45% ke level Rp 438 per saham, kemudian saham PT PP (PTPP) stagnan di Rp 440.
Baca Juga
Sementara saham induk usaha WSBP yaitu PT Waskita Karya Tbk (WSKT) sedang disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia.
Saham WSKT terkunci pada level Rp 202 per saham, sedangkan saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) parkir pada level Rp 204 per saham, juga dengan status suspensi.
Rontoknya harga saham emiten konstruksi BUMN, termasuk WSBP yang diketahui tengah menggarap berderet proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), terjadi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan hasil Pilpres yang dilayangkan oleh pasangan calon nomor urut 1 dan 3.
“Sejatinya putusan MK merupakan penegasan bakal berlanjutnya pembangunan IKN di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran,” urai analis.
Alih-alih mendatangkan sentimen positif, harga saham WSBP justru melorot dalam. Dia menyebut proyek-proyek yang dikerjakan banyak berbentuk mandatory sehingga kurang menguntungkan bagi WSBP.
Selain itu, proyek pemerintah biasanya dibayar pada akhir pekerjaan, sementara perusahaan butuh modal kerja saat proyek berjalan.
Pandangan berbeda diungkap Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Menurutnya penurunan harga saham WSBP berkaitan dengan negative cashflow Perseroan selama bertahun-tahun.
“Kinerja harga sahamnya terus mengalami penurunan, ya secara teknikal memang saya pikir itu masuk downtrend,” jelas Nafan kepada investortrust.id, Selasa (23/4/2024).
Negative cashflow yang dialami oleh WSBP ini membuat Perseroan melakukan restrukturasi kredit. Sebagai informasi, dalam beberapa kesempatan Manajemen WSBP mengklaim proses restrukturisasi utang Perseroan telah mencapai progres 90%.
Baca Juga
Terkait IKN, Nafan menilai saat ini progres proyek yang digarap WSBP berjalan progresif, dan prospeknya yang baik, namun Nafan menilai bahwa WSBP bukan merupakan saham yang layak dicermati sebab sahamnya yang kurang likuid, sehingga sebaiknya investor mencermati saham yang lebih likuid.
Sementara itu, Head of Equity Research PT Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas mengatakan, penyebab anjloknya saham ini karena WSBP masuk ke papan pemantauan khusus tahap II (Full Periodic Call Auction).
Soekarno mengatakan, masuknya WSBP dalam pemantauan khusus bursa disebabkan oleh harga rata-rata saham selama 6 bulan terakhir di Pasar Reguler dan/atau Pasar Reguler Periodic Call Auction kurang dari Rp 51. Selain itu, WSBP juga memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.
“Saham-saham yang sudah masuk pemantauaan khusus tahap II mayoritas jeblok di bawah harga sebelum ditetapkan Full Periodic Call Auction,” ujar Soekarno pada investortrust.id, Selasa (24/4/2024).
Ke depannya, Soekarno memproyeksi bahwa saham WSBP ke depannya tetap berpeluang bangkit atau menguat seiring upaya perusahaan memperbaiki kinerjanya. “Tapi untuk saat ini pelaku pasar masih akan wait and see terlebih dahulu,” tuturnya.
Investortrust berupaya menghubungi Vice President of Corporate Secretary WSBP, Fandy Dewanto, untuk meminta penjelasannya terkait langkah Perseroan mendongkrak kinerja Perseroan. Namun Fandy belum merespons pesan singkat yang disampaikan.
Namun sebelumnya, Fandy mengungkap WSBP berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 6,30 miliar pada tahun 2023. Fandy menyebut, perolehan ini menjadi catatan positif bagi WSBP selama dua tahun berturut-turut pasca menyelesaikan restrukturisasi keuangan.
Perolahan laba bersih ditopang oleh total pendapatan usaha sebesar Rp 1,49 triliun. “Pencapaian kinerja tahun 2023 adalah hasil dari implementasi strategi bisnis yang baik,” urai Fandy dalam keterangan tertulis, Senin (1/4/2024).
Lebih lanjut dikatakan, pendapatan usaha WSBP ditopang oleh kontribusi dari segmen bisnis utama perusahaan. Segmen bisnis beton precast menyumbang pendapatan sebesar Rp 540,39 miliar, segmen readymix berhasil membukukan pendapatan terbesar yaitu Rp 579,84 miliar, sementara segmen jasa konstruksi mendapatkan pendapatan usaha sebesar Rp 367,35 miliar.
“Selaras dengan program peningkatan kinerja, WSBP juga berhasil mempertahankan tingkat profitabilitas operasi yang ditunjukan oleh pencapaian margin laba kotor sebesar 15,4% atau Rp 229 miliar. Pencapaian ini didukung oleh strategi WSBP yang senantiasa meningkatkan optimalisasi proses produksi dan penerapan manajemen rantai pasok (supply chain) bahan baku yang baik,” urai Fandy.

