Saham Darma Henwa (DEWA) Berpotensi Meroket, Target Harga Dipantok Rp 700
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mendapat rekomendasi beli dari Mandiri Sekuritas dengan target harga Rp700 per saham. Rekomendasi tersebut didukung perbaikan margin perusahaan yang ditopang peningkatan kontribusi pekerjaan pemindahan lapisan tanah penutup atau overburden (OB) menggunakan armada sendiri.
Dengan harga penutupan saham DEWA level Rp 258 kemarin, terbuka potensi penguatan lebih dari 271%.
Dalam riset bertajuk Analyst Meeting Key Takeaways, analis Mandiri Sekuritas Vanessa Taslim dan Ariyanto Kurniawan menilai, peningkatan kontribusi pekerjaan OB removal yang dikerjakan secara internal menjadi salah satu faktor pendukung perbaikan margin Darma Henwa.
Baca Juga
BlackRock Masuk ke Bisnis Pengelolaan Limbah TBS Energi (TOBA), Siapkan Investasi S$555 Juta
Mandiri Sekuritas mempertahankan target volume OB removal DEWA sebesar 150 juta bank cubic meter (bcm) pada 2026. Dari jumlah tersebut, proyek Sebuku diperkirakan menyumbang 8-10 juta bcm sepanjang 2026. Kontribusi Sebuku berpotensi meningkat menjadi 30 juta bcm pada 2027 dengan catatan memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain mengoptimalkan proyek yang berjalan, DEWA mengikuti tender proyek baru di Sumatera Selatan dan menjajaki peluang pertambangan nikel di Maluku Utara.
Sebelumnya, Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham DEWA dengan target harga Rp600 per saham. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham DEWA, tetapi menurunkan target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) menjadi Rp530 per saham dari sebelumnya Rp550 per saham.
BRI Danareksa Sekuritas menilai percepatan penggunaan armada milik sendiri menjadi salah satu faktor penting yang mendukung pertumbuhan kinerja DEWA. Namun, peningkatan belanja modal atau capital expenditure (capex) membuat perusahaan sekuritas tersebut merevisi target harga saham.
BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi capex DEWA pada 2026 menjadi Rp2,55 triliun dari sebelumnya Rp833 miliar. Peningkatan belanja modal tersebut diperkirakan meningkatkan beban depresiasi dan biaya pembiayaan dalam jangka pendek.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Lanjutkan Rebound, Tiga Saham Dipimpin HRUM Layak Dilirik
Kondisi tersebut diproyeksikan memangkas estimasi laba bersih DEWA pada tahun ini sebesar 9,7% menjadi Rp676 miliar. Meski demikian, percepatan internalisasi armada diperkirakan memperluas margin EBITDA DEWA menjadi 30,1% pada 2026 dan 34,3% pada 2027.
Sejalan dengan prospek perbaikan margin tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan laba bersih DEWA pada 2027 meningkat 7,6% menjadi Rp1,64 triliun, atau tumbuh 143% secara tahunan. Samuel Sekuritas juga menyoroti sejumlah katalis operasional DEWA, termasuk kontribusi penuh porsi 26 juta bcm PAMA di proyek KPC yang mulai berjalan sejak akhir Mei 2026, normalisasi biaya operasional, serta tambahan pekerjaan di Sebuku.
Tambahan pekerjaan di Sebuku sebelumnya diperkirakan mencapai hingga 55 juta bcm waste removal, meningkat sekitar 40%. Pekerjaan tersebut juga berpotensi mendorong volume produksi batu bara hingga 5 juta ton atau sekitar 29%. Selain itu, peluang pertumbuhan DEWA juga berasal dari proyek jasa pertambangan nikel di Sulawesi dan pengembangan tambang emas Gayo di Aceh.
