MSCI Tekan Saham Consumer, Mirae Asset Soroti Peluang di MIDI, MAPI, dan CMRY
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan pasar akibat ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menyeret saham-saham sektor konsumer (consumer). Di tengah koreksi tajam tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti peluang investasi pada saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dengan mempertimbangkan ketahanan volume penjualan dan prospek kinerja masing-masing emiten.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Putu Chantika Putri Dhammayanti menilai bahwa investor perlu lebih selektif dalam memilih saham konsumer. Pasalnya, tekanan pasar tidak berdampak sama terhadap setiap emiten. Selain daya beli dan biaya operasional, kepemilikan asing serta ketahanan kinerja perusahaan turut memengaruhi pergerakan harga saham.
Pada 16 Oktober 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,6%, indeks sektor consumer non-cyclicals turun 10,1%. Sejumlah saham konsumer juga mengalami tekanan signifikan. Harga saham MIDI anjlok 12,4%, sedangkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terkoreksi 14,9% pada hari tersebut.
Baca Juga
Menurut Chantika, tekanan harga saham perlu dilihat dalam konteks ketidakpastian terkait usulan MSCI dan potensi perubahan arus dana asing, bukan semata-mata sebagai cerminan perubahan fundamental bisnis perusahaan.
“Dalam kondisi pasar seperti sekarang, investor perlu membedakan tekanan yang berasal dari sentimen dan arus dana dengan perubahan fundamental perusahaan,” ujarnya dalam acara Media Day Oktober 2026: Navigating Uncertainty: A New Perspective on Indonesia’s Market, Selasa (20/10/2026).
Dia menegaskan, tekanan pasar dapat menciptakan peluang investasi. Namun, pemulihan harga saham setiap emiten berpotensi berlangsung dengan kecepatan berbeda. “Karena itu, pemilihan saham perlu didasarkan pada ketahanan bisnis dan prospek kinerja masing-masing emiten,” jelasnya.
Saham Consumer Berbeda
Perbedaan kinerja saham konsumer sepanjang tahun berjalan memperlihatkan pentingnya seleksi berbasis fundamental. Hingga 16 Oktober 2026, saham MAPI masih mencatatkan kenaikan sebesar 13,3% secara year-to-date (YtD). Sebaliknya, saham AMRT dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masing-masing terkoreksi sekitar 46,6% dan 46,5%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa saham-saham konsumer memiliki karakteristik dan daya tahan yang tidak sama dalam menghadapi tekanan pasar.
Baca Juga
Survei BI: Konsumsi Masyarakat Naik, Tabungan Turun pada Agustus 2026
Chantika juga mengingatkan bahwa valuasi di bawah rata-rata historis tidak otomatis menjamin pemulihan harga saham. Investor perlu mempertimbangkan perubahan pola konsumsi, tekanan biaya, kemampuan perusahaan mempertahankan margin, serta prospek pertumbuhan laba.
Dalam kondisi pemulihan konsumsi yang belum merata, ketahanan volume penjualan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan perusahaan menjaga kinerja bisnis.
“Valuasi yang murah saja tidak cukup untuk menjadi dasar keputusan investasi. Investor perlu melihat apakah perusahaan masih mampu menjaga volume penjualan, mempertahankan profitabilitas, dan memiliki katalis pertumbuhan yang jelas,” ujar Chantika.
Baca Juga
Harapan Diplomasi Tekan Harga Minyak, tapi Serangan di Selat Hormuz Masih Mengancam
Terkait saham pilihan, Mirae Asset menilai peluang investasi masih terbuka pada emiten yang memiliki ketahanan volume penjualan yang baik. Namun, investor perlu mengedepankan selektivitas dan tidak hanya mengandalkan asumsi bahwa valuasi saham akan kembali ke rata-rata historis.
Dalam risetnya, Mirae Asset tetap mencermati saham MIDI, MAPI, dan CMRY dengan mempertimbangkan ketahanan volume penjualan serta prospek kinerja masing-masing perusahaan.
