Telkom (TLKM) Punya Dua Mesin Cuan Baru, Target Harga Rp 3.400
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyimpan potensi kenaikan harga hampir 70%. Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli (buy) saham TLKM dengan target harga Rp3.400 per saham, ditopang prospek bisnis pusat data (data center) dan kabel bawah laut.
Target harga yang ditetapkan Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja tersebut mengindikasikan potensi capital gain sebesar 69,15% dibandingkan harga saham TLKM di kisaran Rp2.010 per saham. Target tersebut juga mencerminkan valuasi 4,2 kali enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) Telkom untuk tahun buku 2027.
Dalam riset yang dipublikasikan pada Selasa (20/10/2026), Mirae Asset menyoroti bisnis pusat data Telkom di Batam melalui NeutraDC dan jaringan kabel bawah laut PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) sebagai pendorong pertumbuhan perseroan.
Baca Juga
Data Center Batam Dihantam Isu Air dan Listrik, Ini Kata Telkom
Permintaan pusat data di Batam bahkan telah melampaui kapasitas yang direncanakan. Sementara itu, sejumlah rute kabel bawah laut Telin telah beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi, sehingga membuka peluang ekspansi kapasitas dan peningkatan pendapatan.
Selain potensi kenaikan harga, saham TLKM juga menawarkan daya tarik dari sisi dividen. Mirae Asset memperkirakan imbal hasil dividen (dividend yield) TLKM mencapai 8%-9% pada harga saham saat ini, lebih tinggi dibandingkan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun.
Pusat Data Batam
Hasil kunjungan Daniel ke kampus pusat data NeutraDC di Kawasan Industri Terpadu Kabil (KIIE) dan stasiun pendaratan kabel Telin di Nongsa Digital Park (NDP) menunjukkan bahwa permintaan bukan menjadi kendala utama pengembangan bisnis pusat data Telkom di Batam. “Ketersediaan listrik justru menjadi faktor penentu kecepatan ekspansi kapasitas,” jelas Daniel dalam risetnya.
Pusat data BTM-1 dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026 dengan kapasitas tahap pertama sebesar 6 megawatt (MW). Seluruh kapasitas tahap pertama tersebut telah dipesan Gorilla Technology. Adapun sisa kapasitas sebesar 12 MW ditargetkan beroperasi pada kuartal I-2027.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Resmi Spin-Off InfraCo, 90% Aset Jaringan Kini Dikelola InfraNexia
Sementara itu, perubahan pendekatan pembangunan menjadi modular membuat proyek BTM-2 dan BTM-3 digabungkan menjadi satu kampus pusat data yang dirancang untuk mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kampus tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 100 MW dan telah sepenuhnya dipesan. Bahkan, minat permintaan tercatat mencapai sekitar 260 MW. Perubahan rencana pembangunan itu meningkatkan total kapasitas pusat data Telkom di Batam menjadi sekitar 118 MW, dari sebelumnya 54 MW. Telkom menargetkan kapasitas pusat data aktif mencapai sekitar 60 MW pada akhir 2026, meningkat dari 49,9 MW pada semester I-2026.
Meski prospek permintaan kuat, ekspansi kapasitas masih menghadapi tantangan pasokan listrik. Pembangunan pusat data baru perlu disertai pembangkit listrik khusus dengan biaya sekitar Rp25 miliar per MW. Selain pusat data, bisnis kabel bawah laut Telin menjadi pendorong pertumbuhan lain bagi Telkom. Telin memiliki kapasitas pada 33 sistem kabel bawah laut dengan total panjang jaringan mencapai 429.167 kilometer.
Baca Juga
Penerapan Kuota Hangus, Legislator Minta Telkomsel, Indosat dan XLSmart Patuhi Putusan MK
Kapasitas yang telah terjual mencapai 65 terabit per detik (Tbps), terdiri atas 51% kapasitas sewa dan 49% indefeasible right of use (IRU), yakni hak penggunaan kapasitas jaringan untuk jangka panjang. “Tingkat utilisasi kabel milik sendiri telah melampaui 85% pada sebagian besar sistem. Utilisasi tertinggi tercatat pada sistem IGG+SEA-US sebesar 99% dan SMW5 sebesar 93%,” ungkap Daniel.
Dengan sejumlah rute utama yang mendekati kapasitas penuh, Telin berencana meningkatkan kapasitas melalui tiga langkah, yakni mengoptimalkan kabel yang sudah ada, membeli kapasitas pada sistem baru, serta membangun jaringan melalui konsorsium dalam jangka panjang.
Telin juga mengembangkan stasiun pendaratan kabel CLS Nongsa yang mampu menampung hingga enam sistem kabel. Sementara itu, pengembangan gateway Manado pada sistem SEA-US berpotensi memangkas latensi koneksi ke Amerika Serikat sebesar 10%-36%.
Pengembangan tersebut sekaligus berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap Batam, yang saat ini menangani sekitar 90% lalu lintas internasional.
Pendapatan Bandwidth TLKM
Mirae Asset memperkirakan permintaan bandwidth internasional pada enam koridor utama akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 24%-30% hingga 2030.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh belanja teknologi informasi perusahaan, kebutuhan komputasi AI, serta permintaan perusahaan hyperscaler untuk melakukan diversifikasi rute jaringan. Di tengah peningkatan permintaan, penurunan harga tahunan layanan panjang gelombang 100G telah melambat menjadi sekitar 10%. Kondisi ini terjadi karena penambahan pasokan belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar. Penurunan harga bahkan lebih rendah pada rute dengan pasokan ketat, seperti Singapura-Eropa.
Baca Juga
Kuota Hangus Disorot, Kemenkomdigi Temukan Indosat, Telkomsel, XLSmart Belum Penuhi Putusan MK
“Kami memperkirakan pendapatan bandwidth masih tumbuh 12%-17% per tahun, sehingga harga layanan bukan lagi kendala utama, melainkan ketersediaan kapasitas yang dapat dijual,” terang Daniel.
Meski mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp3.400 per saham, Mirae Asset tetap mencermati sejumlah risiko terhadap prospek saham TLKM. Risiko tersebut meliputi keterlambatan pasokan listrik dan kendala pelaksanaan pembangunan kapasitas baru. Selain itu, penurunan harga layanan yang lebih cepat dari perkiraan akibat peningkatan kapasitas oleh pesaing dalam konsorsium juga dapat memengaruhi kinerja perseroan.
