BBRI Bangkit, Buyback dan Danantara Siap Jadi Katalis Lanjutan?
JAKARTA, investortrust.id – Aksi pembelian kembali (buyback) saham berpotensi menjadi salah satu katalis positif bagi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan perbankan BUMN lain, di tengah tekanan harga saham yang tajam.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, buyback saham bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), termasuk BBRI, layak dipertimbangkan, apabila koreksi harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
“Buyback saham dapat menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga sahamnya sudah berada di bawah nilai wajarnya sekaligus meningkatkan kepercayaan investor di tengah tekanan pasar,” demikian penjelasan Nafan kepada Investortrust.id, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga
Buyback BBRI Terbuka, Saham Dibidik Rp4.100 dengan Dividen Dua Digit
Pada penutupan perdagangan saham di BEI hari ini, saham BBRI ditutup melesat sebanyak Rp 250 (9,84%) menjadi Rp 2.790. Lompatan harga saham BBRI ikut menopang penguatan pesat indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI hari ini sebanyak 282 poin atau sebanyak 5,65% menjadi Rp 5.278.
Meski demikian, Nafan menegaskan bahwa penurunan harga saham tidak cukup menjadi alasan untuk melakukan buyback saham. Emiten perlu mempertimbangkan valuasi, prospek bisnis, profitabilitas, kualitas aset, hingga kecukupan modal sebelum mengambil keputusan.
Khusus untuk BBRI, Mirae Asset menyoroti sejumlah indikator yang perlu diperhatikan sebelum perseroan memutuskan melakukan buyback saham. Indikator tersebut mencakup rasio valuasi, profitabilitas, permodalan, dan kualitas kredit.
Lima indikator utama yang perlu dicermati, yaitu Price-to-book value (PBV) untuk menilai valuasi saham berdasarkan nilai buku perusahaan. Price-to-earnings ratio (PER) untuk mengukur valuasi saham berdasarkan laba perusahaan. Return on equity (ROE) untuk melihat tingkat pengembalian terhadap ekuitas.
BBRI juga harus memperhatikan Capital adequacy ratio (CAR) untuk menilai kecukupan modal bank. Selanjutnya, kualitas kredit, yang tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) dan cost of credit.
Baca Juga
Bos Danantara Sebut Valuasi Emiten BUMN Rendah, Fundamental Tetap Kuat
Peluang BRI untuk melakukan buyback saham masih terbuka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperpanjang penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan hingga 31 Desember 2026.
Melalui kebijakan tersebut, sesuai Peraturan OJK (POJK) Nomor 13 Tahun 2023, perusahaan terbuka dapat melakukan pembelian kembali saham tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Fleksibilitas ini memungkinkan perusahaan merespons volatilitas pasar dengan lebih cepat. Namun, pelaksanaan buyback saham tetap harus mengikuti ketentuan OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk aturan keterbukaan informasi dan batasan transaksi.
Danantara Jadi Sentimen
Di tengah peluang tersebut, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani juga mengungkapkan rencana penambahan kepemilikan saham di perusahaan BUMN. “Nanti akan menambah kepemilikan (saham), akan kami cek utamanya yang saham-saham bagus fundamentalnya,” ujar Rosan seusai konferensi pers di Istana Negara, Senin (19/10/2026).
Menurut Nafan, pembelian saham emiten BUMN oleh Danantara berpotensi membantu memulihkan kepercayaan pasar apabila dilakukan secara terukur dan transparan. Pembelian ini menambah permintaan saham dan menjadi sinyal kepercayaan terhadap prospek perusahaan pelat merah. Namun, transaksi tersebut berbeda dengan buyback oleh emiten.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Makin Murah, Dividend Yield 13,6% dan PBV Tinggal 1,2 Kali
Jika Danantara membeli saham BBRI dari investor lain, transaksi tersebut hanya mengalihkan kepemilikan saham. Pembelian itu tidak otomatis mengurangi jumlah saham beredar ataupun meningkatkan EPS BBRI. “Saya menilai realisasi buyback oleh BBRI dan Himbara lain maupun pembelian saham BUMN oleh Danantara layak dipertimbangkan. Terutama apabila harga saham telah berada pada valuasi yang menarik dan prospek fundamental perusahaan masih terjaga,” paparnya.
Nafan menyarankan agar strategi ini tidak diposisikan sebagai upaya mempertahankan harga saham pada level tertentu, melainkan sebagai investasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Danantara juga perlu menyeleksi emiten berdasarkan fundamental, valuasi, prospek pertumbuhan, dan risiko investasi, serta melakukan pembelian secara bertahap agar penggunaan dana lebih efisien.
