IHSG Tembus Support 5.850, Risiko Penurunan ke 5.745 Membesar
JAKARTA, investotrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berada dalam tekanan jual setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 dan menembus area support 5.850. Secara teknikal, pelemahan ini meningkatkan risiko koreksi lanjutan menuju level 5.745, bahkan 5.616, apbila tekanan jual berlanjut.
IHSG ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah 5.804. Penurunan tersebut dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dan sejalan dengan koreksi seluruh pasar saham Asia.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG tercermin dari pola head and shoulders yang terbentuk sejak pertengahan tahun hingga Oktober 2026. Pola tersebut mengindikasikan risiko pelemahan setelah indeks gagal bertahan di atas area neckline 6.000.
Baca Juga
Prodia (PRDA) Bakal Stock Split 1:5, Simak Jadwal Lengkapnya
“Mengindikasikan risiko bearish setelah indeks gagal bertahan di atas neckline 6.000,” tulis Reza pada Kamis (15/10/2026).
Menurut dia, kegagalan mempertahankan level 6.000 memperkuat indikasi melemahnya momentum penguatan IHSG. Penembusan area support 5.850 juga meningkatkan risiko berlanjutnya tekanan jual dalam jangka pendek.
Dari sisi indikator teknikal, moving average (MA) 200 berada di kisaran 7.050, jauh di atas posisi IHSG saat ini. Sementara itu, indikator moving average convergence divergence (MACD) masih berada di zona negatif. Garis MACD tercatat di sekitar minus 129, sedangkan garis sinyal berada di kisaran minus 105. Adapun histogram MACD berada di area negatif sekitar minus 24. “Kondisi ini menunjukkan momentum bearish masih dominan,” sebut Reza.
Waspadai Koreksi ke 5.616
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan level support berikutnya bagi IHSG berada di 5.745. Apabila level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju 5.616, yang merupakan area Fibonacci 0,786.
Sementara itu, area resistance terdekat berada di kisaran 5.850–6.000. IHSG perlu kembali menembus area tersebut untuk mengurangi tekanan teknikal sekaligus membuka peluang pemulihan yang lebih kuat. “IHSG perlu kembali menembus area tersebut untuk mengurangi tekanan teknikal dan membuka peluang pemulihan yang lebih kuat,” menurut Reza.
Baca Juga
IHSG Bertahan di 5.800, Selanjutnya Rebound ke 6.030 atau Anjlok ke 5.715?
Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG turut dibayangi sentimen eksternal, terutama perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Inflasi konsumen AS atau consumer price index (CPI) September tercatat meningkat 3,7% secara tahunan (year on year/yoy), melampaui konsensus pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,6%.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut juga dapat menopang penguatan dolar AS, yang berisiko menekan nilai tukar rupiah dan mendorong arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan eksternal lainnya berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ancaman kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Prabowo Reshuffle Kabinet Ke-8, Berikut Daftar 9 Pejabat yang Dilantik Hari Ini
Jika risiko gangguan pasokan meningkat, harga minyak berpotensi bergerak lebih volatil. Ketidakpastian tersebut dapat mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, data perdagangan China memberikan sentimen relatif positif bagi prospek permintaan komoditas. Surplus perdagangan China pada September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan pertumbuhan ekspor sebesar 36,3% yoy dan impor meningkat 31% yoy.
Pertumbuhan impor China berpotensi menopang permintaan terhadap sejumlah komoditas Indonesia. Namun, dampak positif tersebut terhadap IHSG masih berpotensi tertahan oleh tekanan inflasi AS, pergerakan dolar, dan ketidakpastian geopolitik global.
Data Inflasi Produsen AS
Pelaku pasar selanjutnya mencermati rilis data inflasi produsen AS atau producer price index (PPI) periode September 2026.
Sebagai pembanding, PPI AS pada Agustus tercatat meningkat 5,4% yoy. Data terbaru tersebut akan menjadi perhatian investor untuk menilai perkembangan tekanan biaya di tingkat produsen serta implikasinya terhadap prospek inflasi secara keseluruhan.
Baca Juga
Bahlil Resmikan Kilang LPG Cilamaya, Produksi 160 Ton per Hari
Menurut Reza, peningkatan tekanan inflasi produsen berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Sebaliknya, data yang lebih moderat dapat meredakan tekanan terhadap pasar keuangan global.
“Jika tekanan inflasi produsen kembali meningkat, kekhawatiran terhadap ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed dapat menguat. Sebaliknya, data yang lebih moderat berpotensi meredakan tekanan terhadap pasar keuangan global,” pungkas Reza.
