BEI Suspendi Saham POLA dan CSMI, Sebaliknya Tiga Saham Dibuka Kembali Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan (suspend) transaksi saham PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) dan PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) mulai sesi I, Rabu (7/10/2026).
Secara bersamaan, BEI membuka kembali perdagangan (unsuspend) saham PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK), PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS), dan PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ). Sebagaimana diketahui ketiga saham ini terkena suspense kemarin.
Baca Juga
Saham Emiten Ayam Bangkit! Laba CPIN-JPFA Melejit, Target Harga hingga Rp 4.100
Terkait suspense saham POLA dan CSMI dipicu terjadinya lompatan harga dalam beberapa hari terakhir. Data BEI menyebutkan bahwa saham POLA telah melambung lebih dari 107% menjadi Rp 110 dalam sebulan terakhir. Begitu juga dengan saham CSMI telah melesat lebih dari 181% menjadi Rp 515 dalam sebulan terakhir.
Adapun unsuspensi saham PKPK, AIMS, dan BLTZ dimulai hari ini setelah kemarin dihentikan untuk cooling down setelah terjadi lompatan harga. Berdasarkan data, saham PKPK telah melambung sebanyak 47,51% menjadi Rp 6.800 dalam sebulan terakhir dan 104% selama tiga bulan terakhir. Saham BLTZ telah melesat lebih dari 125% menjadi Rp 4.500 dalam sebulan terakhir. Adapun saham AIMS telah melesat lebih dari 50% menjadi Rp 830 dalam sebulan terakhir.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Lanjut Rebound Hari Ini, Saham INDY hingga BULL Layak Dipantau
Terkait indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/10/2026), diproyeksikan lanjutkan technical rebound dengan rentang pergerakan 6.120-6.240. Tiga saham INDY, ANTM, dan BULL direkomendasikan beli.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa pergerakan indeks akan dipengaruhi rilis FOMC Minutes dari rapat 15–16 September, terutama untuk melihat pandangan anggota The Fed terhadap arah suku bunga setelah FFR dinaikkan ke 3,75%–4,00%.
Rilis data tenaga kerja AS yang lebih lemah sebelumnya telah meningkatkan ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif, tetap yield UST 10Y masih berada sekitar 5,3%, sehingga ruang penguatan aset emerging market masih menghadapi risiko dari biaya dana global yang tinggi.
