Target Harga Dipangkas, Saham INCO Masih Punya Potensi Cuan?
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dipangkas dari semulai Rp 8.000 menjadi Rp 7.300, namun rekomendasi tetap dipertahankan beli. Target harga baru ini mempertimbangkan pemulihan produksi bersamaan, penerapan Harga Patokan Mineral (HPM) komoditas logam, hingga pemangkasan target harga jual nikel dunia.
Di lantai bursa, saham INCO pada perdagangan sesi I Kamis (24/9/2026) menguat 80 poin atau 1,67% ke level Rp 4.870. Dalam sepekan terakhir, saham INCO telah naik 4,06%. Dengan demikian potensi cuan saham ini masih terbuka dengan
Baca Juga
HPM Nikel Direvisi, Prospek Saham MBMA, NCKL, dan INCO Makin Terukur
BRI Danareksa dalam riset terbarunya menyebut bahwa kinerja operasional Vale Indonesia (INCO) berangsur pulih pada kuartal II 2026. Penjualan bijih nikel dari Bahodopi mencapai 1,1 juta wet metric ton (WMT), meningkat 21,3% secara kuartalan. Penjualan bijih nikel dari Pomalaa hampir empat kali lipat menjadi 496.000 WMT. Begitu juga dengan volume produksi nickel matte naik 18,8% secara kuartalan menjadi 16.200 ton setelah selesainya pembangunan kembali Furnace 3.
Melihat tren pertumbuhan tersebut, BRI Danareksa mematok target pertumbuhan produksi nickel matte INCO mencapai 67.600 ton pada 2026 dan meningkat menjadi 71.000 ton pada 2027.
Baca Juga
Laba Melesat 313%, Vale (INCO) Pertimbangkan Dividen Interim?
Selain pemulihan operasional, penerapan HPM 363 atau Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026, diperkirakan memberikan tambahan laba bersih sekitar US$ 46 juta pada 2027 atau 14,5% lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya. Kebijakan tersebut berdampak terhadap penurunan beban royalti untuk bijih limonit berkadar rendah.
Meski prospek operasional membaik, BRI Danareksa memangkas target harga saham INCO menjadi Rp7.300 dari sebelumnya Rp8.000. Pemangkasan target harga tersebut disebabkan monetisasi peningkatan kapasitas tambang yang dinilai berjalan lebih lambat. Selain itu, kontribusi komersial HPAL Pomalaa diperkirakan mundur dari kuartal IV 2026 menjadi awal 2027. Target harga tersebut juga mempertimbangkan asumsi harga nikel menjadi US$16.600 per ton dari sebelumnya US$17.500 per ton.
