IDX, BRIDS, dan IIX Perkuat Ekosostem Obligasi Tematik untuk Garap Potensi Pasar Rp7.800 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bursa Efek Indonesia (IDX), PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), dan Impact Investment Exchange (IIX) memperkuat ekosistem obligasi tematik di Indonesia untuk mengembangkan potensi pasar obligasi domestik yang mencapai Rp7.800 triliun.
Langkah ini ditempuh untuk memperluas sumber pembiayaan berkelanjutan, sekaligus mendorong lebih banyak korporasi menerbitkan instrumen utang berbasis dampak (thematic bonds) di pasar modal Indonesia yang semakin diminati investor.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Indonesia Thematic Bonds Roundtable bertajuk Indonesia's Trillion-Rupiah Opportunity: Advancing an Inclusive and Resilient Economy through Thematic Bonds yang digelar di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Forum ini mempertemukan calon penerbit obligasi, investor, regulator, dan pelaku pasar modal untuk membahas percepatan pengembangan instrumen utang berbasis dampak di Indonesia.
Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi mengungkapkan, Indonesia merupakan salah satu pasar obligasi mata uang lokal terbesar di Asia Tenggara dengan nilai outstanding sekitar US$480 miliar setara Rp7.800 triliun.
“Di sisi lain, Indonesia juga dikenal sebagai penerbit green sukuk terbesar di dunia, yang menjadi salah satu fondasi penting bagi pengembangan keuangan berkelanjutan nasional,” kata Listyorini.
Momentum pengembangan obligasi tematik, menurut dia, kian menguat setelah Indonesia mencatatkan diri sebagai negara dengan komitmen penerbitan Orange Bond terbesar di dunia, sekaligus negara pertama yang menerbitkan Orange Sukuk.
Baca Juga
Sukuk Negara Rp12 Triliun Bakal Dilelang, Tawarkan Green Sukuk untuk Proyek Ramah Lingkungan
“Menariknya, pencapaian tersebut lahir dari sektor korporasi, menandai semakin besarnya peran perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan,” ujar dia.
Sejalan dengan itu, Indonesia menargetkan penghimpunan Orange Capital sebesar US$10 miliar hingga 2030. “Dana tersebut ditujukan untuk memberdayakan 100 juta perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender, terutama dalam mendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan yang inklusif,” tutur dia.
Listyorini menjelaskan, tren penerbitan instrumen utang berkelanjutan terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sejak 2023, instrumen tersebut telah menyumbang lebih dari 10% terhadap total penghimpunan dana melalui instrumen utang di pasar modal Indonesia.
Perkembangan tersebut, kata dia, memberikan keyakinan bahwa target penghimpunan dana dari instrumen utang berkelanjutan yang ditetapkan dalam Sustainable Finance Roadmap senilai lebih dari Rp200 triliun pada 2030 dapat dicapai.
Dia menambahkan, penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PNM (PT Permodalan Nasional Madani) tahun lalu menjadi terobosan baru yang menunjukkan adanya permintaan nyata dari pasar Indonesia terhadap instrumen investasi yang berfokus pada pemberdayaan gender.
“Dengan basis investor yang terus berkembang, kami optimistis pasar Indonesia mampu menyerap lebih banyak instrumen utang berkelanjutan yang inovatif dan berskala lebih besar," tegas dia.
Chief Executive Officer (CEO) dan Founder IIX, Prof Shahnaz menilai penerbitan Orange Bond pertama di Indonesia menjadi bukti bahwa instrumen keuangan tematik tidak lagi hanya bergantung pada pembiayaan pemerintah, tetapi mulai masuk ke arus utama pasar modal melalui partisipasi sektor swasta.
Shahnaz menegaskan, Indonesia merupakan pasar strategis karena memiliki ukuran pasar modal yang besar, sekaligus ambisi kuat, dalam mengembangkan keuangan berkelanjutan. Karena itu, IIX akan terus bekerja sama dengan BEI, BRIDS, regulator, investor, dan para penerbit untuk memperluas pasar obligasi tematik di Tanah Air.
"Roundtable ini menjadi bentuk kolaborasi yang dibutuhkan untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif dan tangguh melalui pasar modal yang memberikan manfaat bagi semua pihak," ujar Shahnaz.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas, Fifi Virgantria menyatakan, obligasi tematik menawarkan peluang besar untuk menjembatani kebutuhan pendanaan korporasi dengan meningkatnya minat investor terhadap investasi berkelanjutan.
Baca Juga
Bobot Indonesia di JP Morgan GBI-EM Terdilusi, Daya Saing Pasar Obligasi Perlu Diperkuat
Menurut Fifi, sebagai penjamin pelaksana emisi Bersama (joint lead underwriter) dalam sejumlah penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk, termasuk untuk PNM dan PT Federal International Finance (FIFGroup), BRIDS melihat langsung besarnya potensi pasar tersebut.
"Melalui kolaborasi dengan BEI dan IIX, kami berharap semakin banyak perusahaan memanfaatkan obligasi tematik sebagai alternatif pendanaan, sekaligus mempercepat terbentuknya pipeline penerbit obligasi tematik di Indonesia," ujar Fifi.
Dalam forum tersebut, para peserta juga mendapatkan pemaparan mengenai peluang pasar Orange Bond, pengalaman penerbitan Orange Bond pertama di Indonesia, hingga berbagai praktik terbaik dalam penyusunan kerangka kerja sebelum dan sesudah penerbitan.
Fifi Virgantria menuturkan, melalui diskusi ini, para pemangku kepentingan berharap partisipasi korporasi dalam pasar obligasi tematik dapat semakin luas, sehingga mendukung target penghimpunan Orange Capital senilai US$10 miliar pada 2030.
“Dengan ukuran ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan pasar modal yang terus berkembang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan obligasi tematik di kawasan, sekaligus memperkuat perannya dalam mendorong pembiayaan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” papar dia.

