MSCI 13 Agustus Diprediksi Tak Beri Kelonggaran, Apa Dampaknya ke IHSG?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Keputusan MSCI pada 13 Agustus 2026 diperkirakan masih mempertahankan “status quo yang masih punitive” bagi pasar Indonesia. Meski status Emerging Market tetap dipertahankan, MSCI dinilai belum akan memberikan normalisasi terhadap sejumlah kebijakan indeks Indonesia.
“Keputusan 13 Agustus kemungkinan besar ‘status quo yang masih punitive’,”kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam risetnya Rabu, (12/8/2026).
Menurut Liza, Indonesia kemungkinan tetap berstatus Emerging Market, tetapi belum mendapatkan normalisasi. Kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares masih berpotensi dibekukan. Selain itu, belum akan ada penambahan saham Indonesia maupun upward migration, sementara saham dengan status Highly Significant Control (HSC) masih berpotensi dikeluarkan.
Liza memperkirakan probabilitas status quo mencapai sekitar 75%, sementara peluang disertai penghapusan atau penyesuaian free float yang lebih agresif sekitar 20%. Adapun peluang adanya pelonggaran secara parsial hanya sekitar 5%.
Ia juga meluruskan pengumuman MSCI dilakukan pada 12 Agustus setelah pukul 23.00 CEST atau sekitar Kamis, 13 Agustus pukul 04.00 WIB. Keputusan tersebut kemudian efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Menurut Liza, pengumuman tersebut merupakan review terhadap konstituen indeks, bukan keputusan final untuk menurunkan status Indonesia menjadi Frontier Market. Adapun checkpoint terpenting terkait isu tersebut baru akan berlangsung pada November 2026.
“Jadi MSCI kemungkinan tidak memberi Indonesia “all clear”, tetapi juga belum menjatuhkan vonis Indonesia masih berada dalam masa probation,” tuturnya.
MSCI memang menyatakan akan menilai apakah reformasi di Indonesia telah menghasilkan kemajuan yang nyata, kredibel, dan berkelanjutan menjelang November.
IHSG Berbalik Menguat Jelang Pengumuman MSCI
Di tengah penantian keputusan MSCI, Liza menilai koreksi IHSG pada perdagangan sebelumnya lebih banyak dipengaruhi aksi investor yang mengurangi risiko.
“Penurunan IHSG 1,53% ke 6.267 pada 11 Agustus menurut saya sekitar separuhnya dipengaruhi aksi wait and see dan pengurangan risiko menjelang MSCI, sisanya berasal dari profit taking setelah IHSG naik sekitar 3,8% dalam sebulan, tekanan pada saham big caps, pergerakan Rupiah, dan ketidakpastian kebijakan domestik,” kata Liza.
Menurut Liza, MSCI menjadi pemicu terdekat bagi pergerakan pasar, meski bukan satu-satunya faktor yang membuat investor masih berhati-hati. Pasar juga masih mencermati implementasi perbaikan free float, transparansi pemegang saham, serta penanganan coordinated trading.
“Jadi MSCI merupakan trigger terdekat, tetapi bukan satu-satunya penyebab pasar masih mempertanyakan apakah perbaikan free float, transparansi pemegang saham, dan penanganan coordinated trading benar-benar sudah berjalan, bukan sekadar diumumkan,” terang dia.
Namun, sentimen tersebut berbalik pada perdagangan Rabu (12/8/2026). IHSG menguat 105,97 poin atau 1,69% ke level 6.373,85, sekaligus kembali menembus level 6.300. Di pasar valuta asing, rupiah masih terpantau berada di sekitar Rp 17.845 per dolar AS.
Baca Juga
MSCI Umumkan Review Besok, Ini Kata Bos BEI soal Reformasi Pasar Modal
Sejalan dengan pandangan Liza mengenai faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG hari ini turut ditopang saham-saham emiten konglomerasi di tengah penantian pengumuman MSCI dan data inflasi Amerika Serikat. Namun, ia menilai investor tetap perlu mencermati pergerakan rupiah yang masih cenderung melemah terhadap dolar AS.
“Meskipun masih dibekukan oleh MSCI, namun tidak menutup kemungkinan adanya deletion dari konstituen MSCI,” kata Herditya Rabu, (12/8/2026).
Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan hari ini belum sepenuhnya menghapus risiko yang berasal dari keputusan MSCI. Investor masih perlu mencermati kemungkinan deletion maupun perubahan konstituen indeks setelah pengumuman tersebut.
Strategi Investasi Setelah Pengumuman MSCI
Liza mengatakan, apabila hasil MSCI sesuai dengan base case, yakni Indonesia tetap berstatus Emerging Market dengan special treatment yang masih berlanjut, investor dapat mempertahankan kepemilikan dan melakukan selective buy on weakness pada saham-saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, serta struktur kepemilikan yang relatif bersih.
Sebaliknya, apabila terdapat saham yang dikeluarkan dari indeks atau mengalami penurunan FIF, investor disarankan tidak terburu-buru menangkap penurunan harga. Pasalnya, tekanan dari passive fund masih dapat berlanjut hingga mendekati tanggal efektif 31 Agustus.
Sementara itu, jika MSCI memberikan sinyal pelonggaran, akumulasi tetap disarankan dilakukan secara bertahap dan investor tidak perlu mengejar kenaikan harga pada hari pertama.
Baca Juga
Proyeksi IHSG
Dalam jangka pendek, Liza memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil pada rentang 6.050–6.450. Level support penting berada di kisaran 6.050–6.000, sedangkan resistance berada di 6.385–6.450.
Dalam jangka menengah, peluang IHSG menuju level 6.700–7.000 masih terbuka apabila hasil MSCI tidak lebih buruk dari ekspektasi, rupiah stabil, dan aliran dana asing kembali membaik.
Untuk jangka panjang, prospek IHSG masih konstruktif. Namun, re-rating pasar Indonesia akan bergantung pada bukti penegakan governance, transparansi beneficial ownership, free float yang nyata, serta kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi.
Saham yang Relatif Defensif
Liza mengatakan pihaknya lebih memilih saham dengan laba dan arus kas yang terlihat, neraca sehat, likuiditas transaksi tinggi, serta tidak memiliki persoalan terkait free float maupun konsentrasi kepemilikan.
“Pilihannya antara lain BBCA dengan target 8075, BBRI dengan target Rp 3.600, BBNI Rp 4.100, JSMR Rp 3.850, MTEL Rp 705, JPFA Rp 3.140, dan KLBF Rp 970,” terang Liza.
Menurut dia, sejumlah indikator utama yang perlu diperhatikan investor mencakup pertumbuhan laba, ROE, kualitas aset atau NPL untuk sektor perbankan, net debt, free cash flow, valuasi, likuiditas perdagangan, serta status HSC.
Timing Akumulasi
Liza menilai koreksi yang terjadi saat ini sudah dapat dimanfaatkan investor untuk mulai melakukan akumulasi. Namun, investor belum disarankan mengerahkan seluruh dana sekaligus.
“Investor bisa menempatkan sekitar 25–30% dana sekarang pada saham pilihan, menambah setelah hasil MSCI keluar, lalu menyimpan sisa dana untuk menghadapi volatilitas menjelang tanggal efektif 31 Agustus. Intinya, boleh mulai mencicil, tetapi jangan all-in sebelum pasar benar-benar mencerna detail pengumuman,” pungkas Liza.

