IHSG Anjlok Jelang Keputusan MSCI, Ada Risiko Deletion Saham?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,53% pada penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia(IBEI), bahkan penurunan sempat lebih dari 2%, Selasa (11/8/2026). Penurunan dipicu aksi tunggu investor terhadap pengumuman MSCI Index Review pada 12 Agustus 2026.
Mengacu data penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/8/2026), IHSG ditutup anjlok sebanyak 97,49 poin (1,53%) menjadi 6.267. Rentang pergerakan 6.230-6.388 dengan nilai transaksi Rp 12,74 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit menilai, pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan Asia. Investor juga masih mencermati perkembangan perundingan damai AS-Iran yang hingga saat ini belum menemukan titik temu.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 1,53%, Sebaliknya 3 Saham Dipimpin CSMI Cetak ARA
Kondisi tersebut mendorong harga minyak WTI dan crude oil naik ke kisaran US$ 82-88 per barel. Sementara itu, harga komoditas emas melemah ke level US$ 4.362 per ons dan nilai tukar rupiah turut tertekan terhadap dolar AS ke level Rp17.883 per dolar AS. "Investor juga mencermati akan adanya rilis MSCI dan inflasi AS pada pekan ini," kata Didit kepada investortrust.id, Selasa (11/8/2026).
Senada dengan Didit, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan pelaku pasar domestik akan mencermati pengumuman MSCI August Index Review pada 12 Agustus 2026. MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil review sekitar pukul 23.00 waktu Central European Summer Time (CEST).
OJK sebelumnya berharap MSCI mencabut kebijakan freeze terhadap saham Indonesia. Namun, pasar masih menunggu keputusan final dari penyedia indeks global tersebut.
Baca Juga
MSCI Umumkan Review Besok, Ini Kata Bos BEI soal Reformasi Pasar Modal
Mengingat MSCI masih mempertahankan kebijakan freeze terhadap penambahan saham Indonesia, peluang terjadinya penambahan konstituen baru relatif terbatas.
"Fokus para pelaku pasar justru akan tertuju pada potensi rebalancing atau deletion konstituen akibat kebijakan freeze serta evaluasi konsentrasi kepemilikan saham (High Share Concentration/HSC) oleh MSCI," kata Nafan.
MSCI Jadi Sentimen Positif
Menurut Nafan, apabila tidak terdapat kejutan negatif, keputusan MSCI berpotensi menjadi katalis bagi terjadinya relief rally, karena sebagian kekhawatiran pasar telah tercermin dalam harga saham. "Sebaliknya, hasil yang lebih negatif dari ekspektasi dapat kembali memicu foreign outflow dan menekan IHSG," ucap Nafan.
Sejumlah saham Indonesia juga menjadi perhatian dalam August Index Review. CPIN diperkirakan menjadi kandidat downward migration, yakni turun dari MSCI Global Standard ke MSCI Small Cap.
Baca Juga
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI Banjir Dukungan Anggota Kabinet dan DPR
Penyebab utamanya adalah penurunan harga saham yang signifikan sejak review Mei, sehingga kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float atau FIF-adjusted market cap turun di bawah ambang batas indeks Standard.
Sementara itu, GOTO masih memenuhi persyaratan likuiditas secara umum. Namun, harga saham yang lama bertahan di level Rp50 serta pelemahan likuiditas jangka pendek membuat MSCI memiliki ruang untuk menggunakan diskresi terkait aspek replicability. Kondisi tersebut membuat status GOTO dalam review kali ini masih belum pasti.
Dari pasar global, indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq cenderung terkoreksi karena pelaku pasar mengambil posisi wait and see. Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz juga memudar setelah Iran mengajukan sejumlah syarat kepada AS, termasuk penghentian blokade laut, pencabutan sanksi, dan kompensasi kerusakan akibat perang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump turut menuntut kompensasi dari Iran.
Baca Juga
Airlangga Optimistis Aktivitas IPO Semester II 2026 Makin Bergairah
Kondisi tersebut kembali meningkatkan geopolitical risk premium pada harga minyak dunia yang melonjak lebih dari 4%. Pasar juga mencermati rilis data CPI, PPI, dan retail sales AS yang akan menentukan keberlanjutan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed.
Khusus CPI, konsensus memperkirakan inflasi Juli 2026 sebesar 3,4% secara tahunan, turun dari 3,5% sebelumnya. Data tersebut akan menjadi penentu apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mendorong The Fed lebih dovish atau inflasi yang kembali tinggi justru membatasi ruang pelonggaran moneter.

