Airlangga Optimistis Aktivitas IPO Semester II 2026 Makin Bergairah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia dapat mencapai Rp2,16 triliun pada semester II 2026.
Airlangga berharap aktivitas IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat pada paruh kedua tahun ini, setelah sepanjang semester I 2026 dinilai masih berjalan lambat. “Walaupun kita kemarin semester 1 agak lagging (lambat), tapi mudah-mudahan semester II--2026 bisa mengejar dengan IPO yang lainnya Rp2,16 triliun,” kata Airlangga dalam Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Sebagai informasi, hingga Juli 2026 terdapat tujuh perusahaan yang telah tercatat di BEI sepanjang tahun ini. Airlangga berharap aktivitas penawaran umum perdana saham dapat semakin meningkat pada semester II 2026.
Baca Juga
Danantara Kasih Sinyal IPO Saham BUMN, Ada yang Melantai 6-12 Bulan?
Selain aktivitas IPO, Airlangga menilai perkembangan pasar modal Indonesia juga ditopang oleh keberadaan pasar pengembangan yang dinilai penting bagi pertumbuhan fundamental perusahaan.
“Dan tadi ada pasar lain yang Pak Hasan (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK) belum sampaikan ya Pak? Untuk pasar pengembangan dan ini juga baik karena itu menjadi betul-betul fundamental bagi perusahaan,” terang Airlangga.
Di tengah perkembangan tersebut, Airlangga menilai kondisi pasar modal Indonesia masih relatif aman sehingga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Hal itu tercermin dari jumlah investor yang terus bertumbuh.
Baca Juga
Airlangga: ETF Emas Perkuat Kedalaman Pasar Keuangan, Indonesia Berpeluang Salip India
Indonesia masih mencatat jumlah investor terbesar di kawasan ASEAN, mencapai 28,9 juta investor atau setara 10,18% per Juni 2026. “Juga kita masih relatif aman di angka-angka tersebut, jadi jangan kita khawatir berlebihan. Kemudian kalau di tingkat ASEAN jumlah investor terbesar dan masih di Indonesia,” bebernya.
Tak hanya dari sisi jumlah investor, Airlangga menyebut Indonesia juga memiliki jumlah perusahaan tercatat terbesar kedua di kawasan ASEAN. Hingga saat ini, jumlah emiten di BEI mencapai 957 perusahaan, hanya berada di bawah Malaysia yang memiliki 1.098 emiten. “Juga perusahaan tercatat kedua terbesar,” imbuhnya.
Baca Juga
Respons Surpres Prabowo, OJK Matangkan Persiapan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan fundamental pasar modal juga tercermin dari pertumbuhan laba sejumlah sektor yang menjadi andalan perekonomian Indonesia.
Sektor basic materials mencatat pertumbuhan laba sebesar 258,9%, transportation dan logistics sebesar 103,4%, serta sektor financial sebesar 39,8%. “Kalau kita lihat pertumbuhan laba dari sektor yang diandalkan di Indonesia yaitu basic materials itu pertumbuhan labanya 258,9%, transportation dan logistik 103,4% dan financial 39,8%,” tuturnya.
Airlangga Optimistis Aktivitas IPO Semester II 2026 Makin Bergairah
Airlangga optimistis aktivitas IPO semester II 2026 makin bergairah. Hingga Juli, tujuh perusahaan telah tercatat di BEI.
3 pointer pendek:
- Tujuh perusahaan telah IPO hingga Juli 2026.
- Dana IPO semester I mencapai Rp2,16 triliun.
- Masih ada empat perusahaan dalam pipeline IPO BEI.
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis aktivitas penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham di pasar modal Indonesia semakin meningkat pada semester II 2026.
Hingga Juli 2026, tujuh perusahaan yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk satu perusahaan yang masuk kategori lighthouse IPO saham. Total dana yang dihimpun melalui IPO sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 2,16 triliun.
Baca Juga
RANS Baru Realisasikan Dana IPO Rp 429 Miliar untuk Bayar Utang
“Walaupun di semester I agak lagging (lambat), tapi mudah-mudahan semester II-2026 bisa mengejar, dengan IPO nilainya Rp2,16 triliun,” kata Airlangga dalam Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Airlangga berharap aktivitas IPO saham pada paruh kedua tahun ini dapat mengejar perlambatan yang terjadi pada semester I 2026. Berdasarkan data BEI, masih terdapat empat perusahaan dalam pipeline IPO per 31 Juli 2026.
Secara sektoral, pipeline IPO saham tersebut didominasi perusahaan dari sektor kesehatan. Sementara itu, dua perusahaan lainnya masing-masing berasal dari sektor konsumen non-siklikal dan sektor industri.
Baca Juga
Indo Tambangraya (ITMG) Cetak Kenaikan Pendapatan 9% di Semester I-2026, Laba Segini
Dari sisi skala aset, terdapat dua perusahaan dengan aset besar di atas Rp 250 miliar dan dua perusahaan dengan aset kecil di bawah Rp 50 miliar. Keberadaan pipeline tersebut menjadi bagian dari aktivitas pasar modal yang diharapkan dapat semakin bergairah pada semester II 2026.
Investor Pasar Modal
Selain aktivitas IPO, Airlangga menilai, perkembangan pasar modal Indonesia juga ditopang oleh keberadaan pasar pengembangan yang penting bagi pertumbuhan fundamental perusahaan.
“Dan tadi ada pasar lain yang Pak Hasan (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK) belum sampaikan ya Pak? Untuk pasar pengembangan dan ini juga baik karena itu menjadi betul-betul fundamental bagi perusahaan,” terang Airlangga.
Baca Juga
Dongkrak Minat IPO Saham, BEI Usulkan Insentif Ini bagi Emiten ke Kemenkeu
Di tengah perkembangan pasar modal tersebut, Airlangga menilai kondisi pasar masih relatif aman sehingga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurut dia, hal tersebut tercermin dari pertumbuhan jumlah investor di Indonesia. Indonesia masih mencatat jumlah investor terbesar di kawasan ASEAN, yakni mencapai 28,9 juta investor atau setara 10,18% populasi per Juni 2026.
“Juga kita masih relatif aman di angka-angka tersebut, jadi jangan kita khawatir berlebihan. Kemudian kalau di tingkat ASEAN jumlah investor terbesar dan masih di Indonesia,” bebernya.
Selain jumlah investor, Airlangga menyebut Indonesia memiliki jumlah perusahaan tercatat terbesar kedua di kawasan ASEAN. Hingga kini, jumlah emiten di BEI mencapai 957 perusahaan, berada di bawah Malaysia yang memiliki 1.098 emiten. “Juga perusahaan tercatat kedua terbesar,” imbuhnya.

