49 Tahun Pasar Modal, Analis Soroti Fondasi Kepercayaan Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -Momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perkembangan dan ketahanan pasar modal nasional. Di tengah berbagai tekanan yang masih terjadi, penguatan kepercayaan investor menjadi salah satu fondasi penting yang perlu terus diperkuat.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai resiliensi pasar modal Indonesia masih diuji. Menurutnya, kondisi pasar yang tetap berjalan dan transaksi yang terus berlangsung belum cukup untuk menunjukkan bahwa pasar benar-benar resilien.
"Kalau melihat kondisi pasar modal Indonesia saat ini, resiliensinya memang masih ada, tetapi belum bisa dikatakan benar-benar kuat. Pasar masih berjalan, transaksi tetap berlangsung dan infrastruktur pasar relatif mampu menghadapi tekanan. Namun, kalau ukurannya adalah kepercayaan investor, khususnya investor asing, kita masih menghadapi tantangan yang cukup besar," kata Hendra kepada media, Senin, (10/8/2026).
Dia mencatat, secara year to date (ytd), investor asing masih membukukan net sell di pasar reguler sekitar Rp 95 triliun. Di saat yang sama, IHSG masih terkoreksi sekitar 26% dan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di dunia. "Jadi, menurut saya, kondisi ini lebih menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sedang diuji cukup berat, bukan sedang berada dalam kondisi yang sepenuhnya resilien," imbuhnya.
Menurut Hendra, koreksi IHSG yang terjadi saat ini tidak dapat hanya dipandang sebagai persoalan sentimen jangka pendek. Faktor global seperti arah suku bunga, geopolitik, dan perubahan minat investor terhadap emerging market memang turut memberikan tekanan. Namun, tekanan yang berlangsung cukup panjang juga menunjukkan adanya faktor domestik yang perlu mendapat perhatian.
Salah satunya tercermin dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah membuat investor asing perlu menghitung ulang potensi imbal hasil investasinya karena keuntungan dari kenaikan harga saham dapat tergerus oleh risiko nilai tukar.
Selain itu, Hendra menilai fundamental ekonomi Indonesia masih membutuhkan perhatian. Pertumbuhan ekonomi dan daya beli dinilai belum memberikan sinyal yang cukup kuat, sementara tekanan terhadap rupiah masih berlangsung. "Jadi, koreksi IHSG saat ini menurut saya merupakan kombinasi antara sentimen dan fundamental," tuturnya.
Baca Juga
HUT ke-49 Pasar Modal, KSEI: ETF Emas Perluas Pilihan Investasi dan Perkuat Ekosistem Bullion
Meski demikian, Hendra menegaskan kondisi tersebut tidak berarti seluruh fundamental emiten di bursa memburuk. Sejumlah perusahaan masih mencatatkan kinerja yang sehat. Namun, pasar saham bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi dan prospek keuntungan perusahaan ke depan.
Ketika risiko ekonomi dan nilai tukar meningkat, investor cenderung meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi atau mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.
Karena itu, Hendra mengingatkan agar resiliensi pasar modal tidak hanya diukur dari keberlangsungan perdagangan, pertumbuhan jumlah investor, maupun bertambahnya produk investasi.
"Resiliensi jangan hanya diukur dari apakah bursa tetap buka, transaksi tetap berjalan atau jumlah investor terus bertambah. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pasar mampu mempertahankan kepercayaan investor ketika terjadi tekanan," ungkap dia.
Menurut dia, penguatan pasar modal juga tidak cukup dilakukan dengan terus menambah pasokan melalui peluncuran produk atau instrumen baru. Pengembangan produk tetap penting, tetapi perlu diimbangi dengan penguatan sisi permintaan dan kepercayaan investor.
"Investor akan masuk bukan hanya karena produknya semakin banyak, tetapi karena mereka merasa pasar tersebut kredibel, transparan, likuid dan memiliki kepastian hukum. Jadi yang harus dibangun bukan hanya jumlah produk dan emiten, tetapi kualitas ekosistem pasarnya," kata Hendra.
Baca Juga
Demutualisasi Bursa Buka Peluang Pembagian Dividen kepada Pemegang Saham
Kepercayaan dan Penegakan Aturan Jadi Pekerjaan Rumah
Hendra menilai reformasi pasar modal juga harus tercermin dalam praktik dan tidak berhenti pada perubahan regulasi. Investor membutuhkan kepastian bahwa manipulasi pasar, transaksi tidak wajar, persoalan keterbukaan informasi, maupun pelanggaran tata kelola akan ditindak secara tegas dan konsisten.
"Kalau penegakan aturan masih dianggap belum memberikan efek jera, maka investor akan memasukkan risiko tersebut ke dalam valuasi aset Indonesia. Pada akhirnya, yang terkena dampak bukan hanya saham tertentu, tetapi persepsi terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.
Ke depan, menurut Hendra, pengembalian kepercayaan investor menjadi faktor utama untuk memperkuat resiliensi pasar modal Indonesia. Stabilitas rupiah menjadi salah satu kunci karena investor asing memperhitungkan imbal hasil saham bersamaan dengan risiko nilai tukar.
Selain itu, fundamental ekonomi perlu diperkuat, pertumbuhan ekonomi harus lebih berkualitas, kebijakan fiskal dan moneter memberikan kepastian, serta reformasi pasar modal diarahkan untuk meningkatkan transparansi dan perlindungan investor.
Hendra menilai momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia dapat menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam. Menurutnya, evaluasi tidak cukup hanya melihat usia pasar modal, tetapi juga perkembangan kualitas dan tingkat kepercayaan terhadap pasar.
"Pasar modal yang tangguh bukan hanya pasar yang mampu bertahan ketika terjadi gejolak, tetapi pasar yang tetap dipercaya investor untuk menempatkan dan mempertahankan modalnya. Kalau asing masih keluar dalam jumlah besar, rupiah kembali tertekan dan IHSG masih menjadi salah satu yang terburuk di dunia, berarti pekerjaan rumah kita masih cukup banyak. Yang perlu diperkuat bukan hanya indeksnya, tetapi fondasi kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia," tandas dia.

