Chandra Asri (TPIA) Dinilai Undervalued, Sekuritas Ini Ungkap Potensi Cuan hingga 243%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sucor Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan sikap optimistis terhadap kinerja keuangan dan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) didukung perbaikan kapasitas produksi, struktur pendapatan berbasis dolar AS, serta penguatan neraca keuangan. Saat ini harga saham TPIA jauh di bawah rata-rata harga emiten secara global.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham emmiten emiten Prajogo Pangestu ini (TPIA) dengan target harga Rp 6.200. Dengan harga penutupan saham TPIA level Rp 1.805 pada akhir pekan lalu, terbuka potensi penguatan harga sebanyak 243%.
Baca Juga
'Free Float' Chandra Asri (TPIA) Naik 25,7%, Dana Besar Berpotensi Masuk
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam risetnya menyebutkan bahwa prospek pemulihan kinerja keuangan dan saham TPIA tetap terjaga, meski margin petrokimia mulai mengalami normalisasi dari level puncaknya. Selisih harga (crack spread) masih berada di atas rata-rata sebelum perang, sehingga tetap menopang profitabilitas perseroan.
Sucor Sekuritas memperkirakan pendapatan TPIA meningkat dari US$ 7,02 miliar pada 2025 menjadi US$ 10,87 miliar pada 2026, kemudian meningkat menjadi US$ 12,43 miliar pada 2027 dan US$ 12,48 miliar pada 2028.
Sejalan dengan itu, laba bersih diproyeksikan mencapai US$ 640 juta pada 2026, meningkat menjadi US$ 837 juta pada 2027, serta US$ 1 miliar pada 2028, dibanding tahun lalu mencapai US$ 1,09 miliar.Dari sisi profitabilitas, laba per saham (EPS) diperkirakan sebesar Rp 135 pada 2026, meningkat menjadi Rp 174 pada 2027 dan Rp 208 pada 2028. Return on Equity (ROE) juga diproyeksikan membaik dari 6,4% pada 2026 menjadi 6,7% pada 2027 dan 5,9% pada 2028.
Baca Juga
SCG Chemicals Divestasi Saham Chandra Asri (TPIA) Senilai Rp 14,10 Triliun, Free Float Naik?
“Tambahan kapasitas produksi dari proyek Aster akan mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan laba sesuai jadwal awal. Selain itu, keuntungan dari akuisisi Aster akan memperkuat struktur permodalan, sehingga memberikan ruang yang lebih besar dalam menjaga rasio utang terhadap ekuitas,” tulisnya.
Dari sisi fundamental, TPIA dinilai memiliki struktur pendapatan yang kuat, karena mayoritas pendapatannya berasal dari dolar AS. Model bisnis ini membuat arus kas perusahaan relatif terlindungi dari volatilitas rupiah maupun kenaikan biaya domestik. Perseroan juga memperoleh manfaat dari akses pendanaan internasional dengan biaya yang lebih rendah dibanding pembiayaan di dalam negeri.
Sucor Sekuritas juga menilai peningkatan kepemilikan publik menjadi 25,7%, naik dari sekitar 10%, menjadi sentimen positif bagi saham TPIA. Kenaikan free float tersebut dinilai mendukung likuiditas perdagangan saham serta memperluas kepemilikan institusional.
Baca Juga
Dongkrak Minat IPO Saham, BEI Usulkan Insentif Ini bagi Emiten ke Kemenkeu
Pada valuasi, TPIA diperdagangkan pada Price to Earnings (P/E) 13,2 kali berdasarkan proyeksi 2026 dan 10,2 kali untuk proyeksi 2027. “Valuasi tersebut masih berada di bawah rata-rata global industri petrokimia dan kilang minyak, meskipun perseroan memiliki profil pendapatan yang lebih defensif, neraca keuangan yang lebih kuat, serta margin yang tetap tinggi,” tulisnya.
Dengan kombinasi prospek pertumbuhan laba, fundamental yang membaik, dan valuasi yang masih menarik, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham TPIA dengan target harga Rp 6.200 per saham.
