Rupiah Fluktuatif, JFX Catat Lonjakan Transaksi Emas dan Siapkan 46 Pasangan Mata Uang Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah ketidakpastian global, Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) mencatatkan peningkatan signifikan pada volume transaksi emas on exchange, dari sekitar 19 gram pada periode April menjadi 578 gram pada Mei 2026.
Hal itu berbanding terbalik dengan transaksi pada instrumen valuta asing (valas) yang terpantau berfluktuasi dan cenderung lebih moderat dibandingkan awal tahun.
Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya menyampaikan, lonjakan transaksi emas menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung melakukan diversifikasi portofolio dan mencari instrumen yang dianggap lebih defensif.
“Jadi yang kami lihat bukan semata-mata peningkatan pada satu instrumen tertentu, melainkan perubahan preferensi dan strategi pelaku pasar dalam mengelola risiko,” ujar Kanca dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust, di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Dia turut mengingatkan, instrumen derivatif dan perdagangan berjangka memiliki peran penting untuk menghadapi pelemahan rupiah dan gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.
Pelaku usaha disarankan mengelola risiko fluktuasi nilai tukar, melalui mekanisme lindung nilai atau hedging yang dipercaya memberi kepastian lebih baik dalam menjalankan aktivitas bisnis.
Baca Juga
Dengan demikian, perusahaan dapat lebih fokus pada pengembangan usaha, tanpa terlalu terpengaruh oleh gejolak jangka pendek di pasar valas.
“Jadi yang terpenting bukan mencoba menebak ke mana arah rupiah akan bergerak, tetapi bagaimana mengelola risiko tersebut secara terukur,” tegas Kanca biasa ia disapa.
Dia menambahkan, fungsi utama instrumen derivatif menjadi semakin relevan, terutama bagi perusahaan dengan kewajiban atau utang dalam dolar AS. Pasalnya fluktuasi nilai tukar dapat berdampak langsung terhadap biaya dan profitabilitas perusahaan yang sangat bergantung pada transaksi internasional.
Melalui hedging, perusahaan diharap dapat mengurangi ketidakpastian depresiasi rupiah untuk menyusun anggaran dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih percaya diri.
Sementara, guna merespons kebutuhan diversifikasi dan perdagangan internasional ke depan, JFX mempersiapkan kontrak untuk 46 pasangan mata uang asing yang sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Namun Kanca memahami bahwa ketahanan pasar domestik terhadap gejolak rupiah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan instrumen, tetapi juga oleh tingkat pemahaman pelaku pasarnya.
“Salah satu tantangan yang masih kami temui adalah banyak pelaku usaha maupun masyarakat yang menganggap instrumen derivatif identik dengan aktivitas spekulasi,” ujarnya.
Baca Juga
Redam Dampak Tensi Geopolitik, JFX Perkuat Instrumen Lindung Nilai dan Rilis Kontrak Minyak Mentah
Padahal dalam praktiknya, instrumen tersebut banyak digunakan untuk menciptakan kepastian usaha dan melindungi bisnis dari fluktuasi harga maupun nilai tukar.
Oleh karena itu, JFX terus memperluas program edukasi kepada berbagai kelompok, mulai dari pelaku usaha, asosiasi industri, akademisi, hingga investor ritel. Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan juga diperkuat agar pasar domestik semakin tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global.

