Tokenisasi Berteknologi Blockchain dan Harapan Saham Indonesia Mendunia
Poin Penting
|
Oleh: Vinsensius Sitepu, Pengamat Aset Kripto
INVESTORTRUST.ID - Di tengah pasar kripto yang sedang muram sejak akhir 2025 dan masih sebagian kecil pedagang aset keuagan digital (PAKD) alias crypto exhange Indonesia yang membukukan keuntungan, muncul pertanyaan apakah pasar kripto Tanah Air harus hanya bergantung pada kripto-kripto biasa atau adakah penerapan lain untuk meningkatkan nilai pasar modal lokal?.
Jawaban singkatnya: ya, tetapi dengan catatan yang penting untuk kita telisik bersama.
Bagi saya, minat terhadap pasar aset digital Indonesia belum surut. Fondasinya memang kuat. Ini tercermin dari jumlah aktif pengguna naik berlipat-lipat, setidaknya sejak tahun 2022.
Angka terkini menurut OJK, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 21,7 juta akun per April 2026.
Pasar lokal sebesar ini, dengan demografi muda yang melek digital, jelas menjadi magnet tersendiri bagi pemodal yang masuk ke crypto exchange dan pula ke dua bursa kripto,Central Finansial X (CFX) dan Indonesia Crypto Exchange (ICEx).
Namun saya ingin mengingatkan satu hal. Kepercayaan investor terhadap sebuah platform tidak otomatis sama dengan kesehatan seluruh industri.
Pendanaan FLOQ terbaru misalnya adalah sinyal positif, tetapi ia lebih tepat dibaca sebagai keyakinan pada model bisnis dan tim di baliknya, bukan jaminan bahwa semua pemain akan ikut menikmati masa cerah.
Baca Juga
Tak Melulu Fokus pada Bitcoin, Investor Indonesia Mulai Berburu Aset Tokenisasi
Sektor Tokenisasi
Kalau pertanyaannya adalah ke mana arah potensi kripto Indonesia yang sebenarnya, saya melihat jawabannya tidak lagi semata pada jual beli Bitcoin dan alternative coin (altcoin).
Sektor blockchain dan kripto hari ini sudah jauh lebih luas. Salah satu yang paling seksi, dan menurut saya paling realistis untuk Indonesia, adalah tokenisasi aset dunia nyata atau Real World Assets (RWA). Inilah use case yang selama ini kita nantikan dan harapkan. Tujuannya jelas, agar pemanfaatan blockchain dan kripto bisa jauh lebih luas, tidak terjebak hanya sebagai arena spekulasi harga.
RWA membuat teknologi ini akhirnya menyentuh aset yang riil, dari saham, emas, properti, hingga surat utang negara yang direpresentasikan sebagai token di blockchain.
Yang menarik, fondasinya sudah mulai terbangun di Indonesia. Hari ini investor lokal sudah bisa membeli versi tertokenisasi dari saham global lewat bursa kripto dalam negeri. Indodax, misalnya, telah meluncurkan saham tertokenisasi seperti Tesla, Alphabet, Nvidia, Apple, Amazon, dan Coinbase yang berjalan di jaringan Solana dengan nilai dipatok 1:1 terhadap harga saham aslinya. PINTU bahkan telah menghadirkan puluhan aset tertokenisasi, mulai dari saham teknologi global, ETF, hingga obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Secara global, data RWA.xyz per pertengahan Mei 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar tokenisasi aset sudah menembus sekitar US $32 miliar atau setara lebih dari Rp 563 triliun.
Namun, kalau kita jujur membaca peta di atas, posisi kita saat ini masih sebagai pasar konsumen. Yang terjadi sekarang adalah investor Indonesia membeli saham AS dalam bentuk token. Arusnya satu arah, dari luar ke dalam.
Di sinilah letak harapan dan pertaruhan yang sebenarnya. Output final yang kita tuju mestinya adalah kebalikannya: saham-saham Indonesia sendiri yang ditokenisasi, lalu bisa diperdagangkan di bursa kripto, baik lokal maupun internasional. Persis seperti token saham Nvidia, Apple, Tesla, dan Google yang hari ini lalu lalang di exchange lokal kita, suatu saat token saham emiten Indonesia juga bisa berputar di pasar global dengan cara yang sama.
Kalau itu terwujud, dampaknya bukan main. Saham Indonesia yang selama ini relatif terkurung di pasar domestik bisa diakses investor lintas negara secara langsung, 24 jam, dalam pecahan kecil, tanpa rantai administrasi yang panjang. Likuiditasnya berpotensi naik, dan yang lebih penting, posisi pasar saham Indonesia ikut terangkat di mata investor internasional. Inilah titik di mana kripto berhenti menjadi sekadar instrumen spekulatif dan mulai memperkuat ekonomi riil kita sendiri.
Dari sudut pandang crypto exchange, ini juga lahan pemasukan baru yang menggoda. Selama ini pendapatan bursa sangat bergantung pada volume transaksi spot yang naik turun mengikuti siklus pasar. Tokenisasi aset, apalagi aset domestik, membuka sumber yang lebih stabil dan tidak melulu bertumpu pada euforia harga koin.
Baca Juga
JPMorgan, Citigroup hingga Bank of America Siapkan Jaringan Blockchain untuk Lawan Stablecoin
Tetapi semuanya harus berakar pada praktik yang benar.
Di sinilah saya ingin menahan diri agar tidak terlalu euforia. Tokenisasi saham Indonesia tidak boleh dibangun di atas jalan pintas. Output sektor RWA sangat bergantung pada nilai dan kualitas aset yang disasar, dan yang paling dekat serta paling besar potensinya memang pasar saham, termasuk kemungkinan tokenisasi surat utang negara.
Tetapi semua itu harus berakar dari praktik yang proper dan benar dari sisi pasar saham Indonesia sendiri. Saham yang ditokenisasi tetap harus merepresentasikan kepemilikan yang sah, dengan pencatatan, kustodian, dan mekanisme penyelesaian yang jelas. Ini bukan wilayah yang bisa dibiarkan liar. Penerapannya wajib selaras dengan regulasi dan pengawasan yang ketat, baik dari OJK maupun otoritas pasar modal terkait. Kabar baiknya, OJK disebut menyambut baik perkembangan tokenisasi aset. Modal kepercayaan itu perlu dijaga dengan tata kelola, bukan dengan euforia.
Selain soal nilai aset, tiga pekerjaan rumah klasik tetap menghadang. Pertama, regulasi yang masih dinamis dan butuh kepastian, terutama soal status hukum aset tertokenisasi. Kedua, literasi digital masyarakat yang belum merata. Ketiga, volatilitas pasar global yang tetap menjadi tantangan psikologis bagi investor ritel. Tanpa membenahi ketiganya, tokenisasi hanya akan menjadi jargon yang indah di atas kertas.
Harus Naik Kelas
Pendanaan baru ke crypto exchange lokal sebaiknya kita perlakukan sebagai pengingat, bukan euforia. Pengingat bahwa potensi pasar kripto Indonesia memang besar dan masih dipercaya pemodal. Tetapi juga pengingat bahwa industri ini sudah saatnya naik kelas, dari sekadar tempat spekulasi menjadi infrastruktur keuangan yang memperluas akses dan likuiditas.
Jika modal sebesar itu, dan modal serupa yang mengalir ke pemain lain, diarahkan untuk memperkuat fondasi, mendorong tokenisasi aset domestik, dan mengangkat literasi publik, maka pendanaan ini akan punya arti jauh.
Tetapi ukuran kemajuannya nanti bukan lagi seberapa banyak orang Indonesia membeli token saham Apple atau Tesla, melainkan seberapa cepat kita bisa membalik arusnya. Lalu membuat saham Indonesia sendiri ditokenisasi dengan benar, diawasi ketat, serta diperdagangkan dan dihargai dunia. Di situlah blockchain berhenti menjadi sekadar tren dan mulai bekerja untuk ekonomi kita.

