Waskita Karya Percepat Penyelesaian 5 Proyek Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan
JAKARTA, investortrust.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menegaskan komitmennya untuk mempercepat penyelesaian sejumlah proyek Sekolah Rakyat (SR) di Sulawesi Selatan. Perseroan saat ini menggarap lima proyek SR yang berlokasi di Kabupaten Tana Toraja, Sidrap, Wajo, Soppeng, dan Barru.
Direktur Operasi II WSKT Paulus Budi Kartiko mengatakan, progress pembangunan kelima proyek tersebut secara keseluruhan telah mencapai 81,61%. Fasilitas pendidikan itu ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada Juli 2026.
Baca Juga
IHSG Sesi II Lanjutkan Kejatuhan 3,68%, Saham Bip Cap masih Berguguran
“Waskita secara tegas tetap mengutamakan kualitas dalam pembangunannya. Baik dari segi material maupun struktur bangunannya, karena bangunan sekolah ini harus bisa bertahan lama untuk dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Paulus dalam keterangan resmi, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, tim proyek terus mempercepat penyelesaian pembangunan dengan tetap mengedepankan standar mutu dan keselamatan kerja. Para pekerja menjalankan tugas secara bergantian siang dan malam untuk mengejar target penyelesaian.
“Dedikasi tinggi dan kerja keras ribuan pekerja menjadi ujung tombak keberhasilan proyek. Bagi mereka menyukseskan Program Prioritas Pemerintah ini merupakan tujuan utama,” ujarnya.
Baca Juga
Waskita (WSKT) dan Jakpro Mulai Uji Coba LRT Jakarta Fase 1B, Progres Proyek Capai 93,07%
Selain di Sulawesi Selatan, Waskita dipercaya membangun Sekolah Rakyat di sejumlah daerah lainnya. Untuk wilayah Jawa Timur 1, proyek berada di Kabupaten Gresik, Sampang, Tuban, Jombang, dan Kota Surabaya.
Perseroan juga mengerjakan proyek SR Sumatera Selatan 1 yang berlokasi di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Empat Lawang. Sementara itu, proyek SR Aceh 2 berada di Kota Subulussalam dan Kabupaten Nagan Raya.
Paulus mengungkapkan proyek Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan melibatkan 3.498 pekerja. Adapun pembangunan SR di Jawa Timur menyerap hampir 4.000 tenaga kerja. Sementara proyek di Sumatera Selatan dikerjakan oleh 2.291 pekerja dan proyek di Aceh melibatkan 1.571 pekerja.

