FLOQ Raih Dana Segar Rp 203 Miliar, Venture Capital Masih Agresif Suntik Pendanaan ke Pedagang Kripto di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Platform perdagangan aset kripto (exchange) FLOQ meraih pendanaan sebesar US$ 11,3 juta atau sekitar Rp 203 miliar dari investor swasta dan institusional. Pendanaan tersebut memperpanjang daftar pedagang aset keuangan digital (PAKD) atau perusahaan crypto exchange di Indonesia yang berhasil menarik minat venture capital (VC) dan investor strategis global.
Platform ini sendiri rebranding menjadi FLOQ dan resmi diluncurkan pada 30 Mei 2025 serta dimiliki antara lain oleh Timothy Ronald dan Kalimasada serta Yudhono Rawis yang menjabat sebagai CEO FLOQ. Sebagai informasi, PT Kripto Maksima Koin (KMK) yang merupakan bagian dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kemudian melakukan rebranding dengan mengubah nama KMK menjadi FLOQ. KMK sendiri telah mendapatkan sertifikat registrasi dari Bappebti tertanggal 28 Januari 2022 sebagai calon pedagang fisik aset kripto.
Dana segar yang didapatkan FOQ berasal dari sejumlah investor, termasuk Ascent HFX Group dan MD Capital. Di mana, pendanaan akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur teknologi, meningkatkan keamanan siber, mengembangkan produk, memperkuat kepatuhan regulasi, serta memperbaiki tata kelola perusahaan.
FLOQ sendiri menargetkan jumlah pengguna bisa mencapai 3 juta konsumen pada tahun 2026 ini. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari posisi awal tahun ini sekitar 1,8 juta pengguna, dari 1 juta pengguna pada Agustus 2025.
CEO sekaligus Founder FLOQ Yudhono Rawis kepada Investortrust belum lama ini mengatakan, pertumbuhan tersebut akan dicapai melalui pendekatan kolaboratif dengan ekosistem jasa keuangan, khususnya perbankan dan perusahaan pembayaran.
Baca Juga
OJK: Sebagian PAKD Sudah Cetak Kinerja Positif, Industri Kripto di RI Masuk Fase Konsolidasi
Di sisi lain, masuknya investor ke FLOQ menambah panjang daftar platform kripto Indonesia yang sebelumnya telah memperoleh dukungan modal dari berbagai VC global maupun regional. Misalnya saja Triv meraih pendanaan dari MEXC Ventures. Lalu Pintu dari Pantera Capital, Intudo Ventures, Coinbase Ventures, Lightspeed, dan Northstar Group.
Selain itu, exchange lain seperti Indodax juga mendapat pendanaan dari East Ventures. Tak ketinggalan Reku dari AC Ventures, Coinbase Ventures, dan Skystar Capital. Pluang dari BRI Ventures, Accel,Square Peg, dan Openspace Ventures. Lalu Tokocrypto tercatat mendapatkan pendanaan dari investor ternama seperti Binance.
Fenomena tersebut dikatakan pengamat kripto Vinsensius Sitepu mencerminkan minat yang masih tinggi "pemain kripto" di tanah air. Kendati masih ada sebagian besar, mungkin, crypto exchange yang belum mencetak laba besar.
"Pun lagi sektor blockchain-kripto dewasa ini sudah semakin luas, misalnya Indonesia sudah bisa memulai menggalakkan pengayaan tokenisasi saham, tokenisasi emas, tokenisasi properti dengan menggunakan teknologi blockchain dan kripto. Ini disebut Real World Assets tokenization. Tokenisasi itulah menjadi sektor yang cukup seksi untuk dijadikan peluang bagi crypto exchange," ucapnya kepada Investortrust, Minggu (7/6/2026).
Selain itu, pendanaan ini tak ayal juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek industri aset digital Indonesia. Dengan jumlah pengguna yang terus bertambah, tingkat adopsi yang meningkat, serta regulasi yang semakin jelas, Indonesia dinilai menjadi salah satu pasar kripto paling menarik di kawasan Asia Tenggara.
Memperkuat hal itu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Adi Budiarso menilai aset kripto masih memiliki daya tarik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Hal itu didukung oleh pertumbuhan jumlah investor, penguatan infrastruktur industri, serta masuknya pelaku dan investor global ke pasar Indonesia.
Adi menyebutkan, hingga April 2026 jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 21,7 juta akun. OJK juga mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 22,98 triliun pada April 2026, naik dari bulan sebelumnya Rp 22,34 triliun. Sehingga dalam empat bulan sudah mencapai Rp 99,01 triliun. Sementara, nilai transaksi derivatif AKD tercatat sebesar Rp 5,10 triliun di periode yang sama tahun ini, turun dari Rp 5,80 triliun. Sehingga dalam empat bulan sudah mencapai Rp 21,47 triliun. Lalu daftar aset kripto mencapai sebanyak 1.255 dan 40 daftar derivatif AKD.
“Perdagangan aset kripto masih menunjukkan perkembangan yang positif. Jumlah konsumen terus meningkat dan ekosistem industrinya semakin tertata,” ujar Adi dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Mei 2026, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga
Jumlah Konsumen Kripto Capai 21,7 Juta hingga Luno Resmi Terdaftar, Berikut Daftar 26 PAKD Terbaru
Menurut Adi, minat investor terhadap aset kripto tetap terjaga meskipun pasar global masih dibayangi volatilitas akibat ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, dan dinamika hubungan internasional. Selain itu, inovasi teknologi dan diversifikasi produk yang terus berkembang menjadi faktor pendorong daya tarik industri tersebut.
OJK juga mencatat adanya peningkatan partisipasi investor korporasi dan investor asing di pasar kripto domestik. Sejumlah perusahaan global dan institusi keuangan internasional mulai masuk ke Indonesia melalui akuisisi PAKD.
“Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap ekosistem aset kripto Indonesia yang semakin solid dan berada dalam pengawasan OJK,” kata Adi.
Terkait kinerja pelaku usaha, Adi mengungkapkan seluruh PAKD telah menyampaikan laporan keuangan tahun buku 2025. Sebagian perusahaan telah membukukan kinerja positif, sementara sebagian lainnya masih berada dalam fase konsolidasi dan investasi, terutama untuk pengembangan teknologi serta penyesuaian terhadap rezim pengawasan OJK.

