Setiap Krisis Melahirkan Orang Kaya Baru
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu, CEO Investortrust
INVESTORTRUST.ID - Ada satu pelajaran penting yang selalu berulang dalam sejarah ekonomi Indonesia: setiap krisis meninggalkan korban, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan orang-orang kaya baru.
Kalimat ini mungkin terdengar paradoks. Ketika ekonomi terpuruk, perusahaan bangkrut, pengangguran meningkat, rupiah melemah, dan pasar saham ambruk, bagaimana mungkin ada orang yang justru menjadi kaya?
Jawabannya sederhana. Krisis adalah masa ketika aset-aset terbaik dijual dengan harga termurah. Mereka yang memiliki keberanian, kesabaran, dan terutama likuiditas, akan memperoleh kesempatan yang tidak tersedia pada masa normal.
Baca Juga
IHSG Ditutup Hancur Lebur 4,20%, Saham BBCA hingga BREN Turun Tajam
Sejak pasar modal modern Indonesia berkembang pada akhir 1980-an, setidaknya terdapat empat episode krisis besar yang mengguncang perekonomian dan menjatuhkan IHSG secara signifikan.
Krisis pertama adalah krisis finansial Asia 1997-1998, krisis ekonomi terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Rupiah runtuh dari sekitar Rp2.400 menjadi lebih dari Rp16.000 per dolar AS. Ekonomi terkontraksi 13,1%, ratusan perusahaan bangkrut, puluhan bank dilikuidasi, dan gejolak sosial-politik mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto. Pada periode itu, IHSG jatuh lebih dari 60%, dari sekitar 740 menjadi hanya 262.
Krisis kedua datang pada 2008 setelah runtuhnya Lehman Brothers di Amerika Serikat. Meskipun Indonesia tidak mengalami resesi, arus modal asing keluar secara besar-besaran. IHSG anjlok sekitar 61%, dari 2.830 menjadi sekitar 1.111 poin. Bursa Efek Indonesia bahkan terpaksa menghentikan perdagangan selama beberapa hari karena kepanikan pasar.
Krisis ketiga terjadi pada 2020 saat pandemi Covid-19 melumpuhkan ekonomi global. Indonesia mengalami kontraksi ekonomi 2,07%. Aktivitas ekonomi berhenti, sektor pariwisata dan penerbangan lumpuh, serta jutaan UMKM terpukul. Dalam hitungan minggu, IHSG jatuh sekitar 38%, dari 6.300 menjadi 3.937 poin.
Kini, Indonesia menghadapi tekanan besar yang dapat disebut sebagai krisis keempat. Memang situasinya belum separah 1998 atau 2020. Namun kombinasi penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, ketegangan geopolitik, membengkaknya impor migas, dan keluarnya modal asing telah mengguncang pasar keuangan domestik.
Hingga siang hari 5 Juni 2026, IHSG berada di level 5.640,93. Angka ini turun 35,5% sejak awal tahun dan merosot 38,5% dari rekor tertinggi intraday 9.174,47 yang dicapai pada Januari 2026. Pada saat yang sama, rupiah melemah sekitar 11% hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. Dana asing yang keluar dari pasar domestik telah mencapai sekitar Rp58 triliun.
Dari sisi pasar saham, tekanan yang terjadi saat ini bahkan sudah melampaui kejatuhan yang terjadi pada masa pandemi Covid-19. Sentimen pasar sangat negatif. Ketakutan mendominasi. Sebagian investor memilih menjual asetnya dan menunggu situasi membaik.
Namun justru pada saat seperti inilah sejarah biasanya mulai bekerja. Mereka yang menjadi kaya setelah krisis bukanlah orang yang membeli saham saat semua orang optimistis. Mereka adalah orang-orang yang berani membeli ketika mayoritas pasar diliputi rasa takut. Mereka membeli ketika harga saham perusahaan-perusahaan bagus jatuh jauh di bawah nilai wajarnya.
Sejarah pasar modal Indonesia menunjukkan pola yang konsisten. Setelah IHSG terpuruk ke level 262 pada 1998, indeks kemudian menembus 2.800 pada 2008. Setelah jatuh ke 1.111 pada 2008, IHSG akhirnya melesat hingga menembus 6.000. Setelah ambruk ke 3.937 pada 2020, indeks kembali mencetak rekor baru di atas 7.000 bahkan menembus 9.000 poin pada awal 2026.
Baca Juga
Purbaya Masih Tak Khawatir Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Alasannya
Karena itu, krisis bukan hanya tentang kehancuran. Krisis juga merupakan proses redistribusi kekayaan. Aset berpindah dari tangan mereka yang panik kepada mereka yang sabar. Dari mereka yang menjual karena ketakutan kepada mereka yang membeli karena keyakinan.
Tentu saja tidak semua saham akan pulih. Tidak semua perusahaan akan bertahan. Tetapi sejarah membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat pada akhirnya akan kembali mencerminkan nilai intrinsiknya. Ketika itu terjadi, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai ratusan bahkan ribuan persen.
Itulah sebabnya setiap krisis selalu melahirkan orang kaya baru. Pertanyaannya bukan apakah krisis ini akan menghasilkan orang kaya baru. Sejarah sudah menjawabnya: pasti.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika peluang itu datang, apakah kita memiliki keberanian, kesabaran, dan likuiditas untuk memanfaatkannya?

