Saat IHSG Jatuh, OJK dan SRO Lakukan Ungkap Penguatan Koordinasi Pasca Rebalancing MSCI dan FTSE Russell
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus mencermati perkembangan pasar modal setelah pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI dan FTSE Russell pada Mei 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan OJK dan SRO memperkuat koordinasi dengan para pelaku pasar untuk memastikan aktivitas perdagangan dan penyelesaian transaksi tetap berjalan lancar selama periode rebalancing.
Baca Juga
IHSG Mendadak Ambles 3,51% di Awal Sesi II, Saham BBCA Babak Belur
“Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan terutama penyelesaian transaksi di pasar modal di masa rebalancing ini dapat tetap dilakukan dengan baik dan berjalan dengan lancar,” kata Hasan dalam konferensi pers RDKB Mei 2026 secara daring, Jumat (5/6/2026).
Hasan menjelaskan, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus memantau perkembangan pasar serta melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku pasar.
Menurutnya, kebijakan stabilisasi pasar yang diterapkan masih relevan dan efektif dalam menjaga stabilitas pasar modal domestik.
Baca Juga
Kredit Perbankan April 2026 Tumbuh 9,98%, Tembus Rp 8.755 Triliun
OJK dan SRO juga akan terus memantau berbagai agenda yang dilakukan penyedia indeks global (Global Index Providers) guna mengantisipasi dampak terhadap pasar modal Indonesia.
“Ke depan OJK dan SRO juga akan terus memantau berbagai agenda Global Index Providers, serta memastikan bahwa reformasi pasar modal yang sedang berjalan dapat terus diimplementasikan secara konsisten dalam upaya memperkuat kredibilitas dan daya tarik investasi pasar modal di Indonesia,” ujar Hasan.
Adapun Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki awal sesi II, Jumat (5/6/2026), menadak anjlok sebanyak 204,7 poin (3,51%) ke level terendah baru lebih dari lima tahun terakhir 5,635.
Penurunan dipicu kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor infrastruktur turun 5,12%, sektor keuangan melemah 4,31%, sektor energi turun 4%, sektor transportasi turun 4,95%, dan sektor consumer primer melemah 3,79%.

