IHSG Terkapar di 5.734, Kemenkeu Akan Terus Jaga Fundamental Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 206,81 poin atau turun 3,48% menjadi 5.734 pada sesi I perdagangan Kamis (4/6/2026).
Pelemahan dipicu jatuhnya seluruh sektor saham. Sektor material dasar anjlok 9,05%, energi melemah 5,61%, dan sektor infrastruktur melemah 5,05%. Penurunan IHSG BEI ini menjadi yang terdalam di Asia.
Merespons kondisi ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tidak akan mengintervensi pasar saham.
“Kalau dari saya sih nggak ada. Yang penting saya jelaskan bahwa fundamental ekonomi kita bagus dan akan membaik terus,” kata Purbaya, usai menghadiri rapat paripurna di DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Purbaya mengatakan penurunan IHSG harusnya bisa menjadi landasan untuk menilai harga saham yang beredar. Dia menyontohkan kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang mampu mencatatkan penyaluran kredit hingga 13,7% secara tahunan pada akhir Maret 2026 dengan laba mencapai Rp 15,5 triliun atau naik 13,7% secara tahunan.
“Jadi memang ada perbaikan di sana,” ujar dia.
Baca Juga
Kelas Menengah Menyusut Jadi 16,9 Persen, Kadin Soroti PR Besar Ekonomi Indonesia
Dalam kesempatan serupa, Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Herman Saheruddin menegaskan kembali posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dan fundamental ekonomi dalam kondisi baik.
Di tengah guncangan global, defisit APBN 2026 masih terjaga di bawah 3%. Per April 2026, APBN mengalami defisit sebesar Rp 164,4 triliun atau 0,64% dari PDB. Sementara itu, fundamental ekonomi diklaim baik berdasarkan PMI Manufaktur yang masih ekspansif dan inflasi yang masih terjaga di rentang 1,5-3,5%.
“Jadi sebenarnya kalau kita lihat secara fundamental ya, menurut saya baik-baik saja,” kata Herman.
Meski secara fundamental baik, Herman menjelaskan terdapat sentimen negatif yang membuat investor berhati-hati.
“Sentimen ini. Makanya semakin banyak kita scroll TikTok, kalau negatif-negatif semua, nah sentimen kayak gini yang membuat ini (pelemahan IHSG). Padahal sebenarnya data-datanya oke,” ujar dia.
Kondisi ini pula yang terjadi pada pasar obligasi negara. Herman melihat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih dalam jangkauan. Data investing menunjukkan imbal hasil SBN berada di kisaran 6,7%.
Menurut Herman situasi geopolitik global yang tak menentu membuat investor asing cenderung berhati-hati.
“Kalau kita lihat memang situasi investor global itu sekarang mereka sedang wait and see. Makanya pada investor global, nahan. Sekarang yang menjadi tumpuan investor domestik,” ujar dia.
Berdasarkan data IDX per 3 Juni 2026, 59% investor pasar saham berasal dari domestik.

