Analis Serukan Investor Ritel Tidak Terjebak Panic Selling
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Analis pasar modal mengimbau investor ritel untuk tidak terbawa kepanikan (panic selling) di tengah koreksi tajam yang terjadi di pasar saham. Investor disarankan tetap fokus pada kualitas fundamental emiten dan prospek jangka panjang perusahaan.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menyarankan investor ritel tetap bersikap rasional dalam menghadapi volatilitas pasar saat ini.
“Menurut saya, investor ritel sebaiknya tidak terbawa kepanikan saat pasar mengalami koreksi tajam seperti sekarang. Yang lebih penting adalah menilai kembali kualitas fundamental saham yang dimiliki,” kata Reydi saat dihubungi investortrust.id, Kamis (4/6/2026).
Menurut Reydi, selama kinerja dan prospek bisnis emiten masih terjaga, penurunan harga saham tidak selalu mencerminkan penurunan nilai perusahaan.
Ia menilai penyesuaian portofolio tetap dapat dilakukan dengan mengalihkan dana dari saham yang prospeknya memburuk ke saham-saham berfundamental kuat yang saat ini diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik.
Reydi menjelaskan, tekanan yang terjadi di pasar lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan makroekonomi, seperti pelemahan rupiah serta keluarnya dana asing, dibandingkan penurunan fundamental emiten secara menyeluruh.
“Namun, bagi investor jangka panjang, fase koreksi seperti ini justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berkualitas,” pungkas Reydi.
Baca Juga
IHSG Lanjutkan Penurunan tajam 3,48% di Sesi I, Saham Perbankan Dipimpin BBNI Anjlok
Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai penurunan IHSG pada perdagangan hari ini dipicu kombinasi berbagai sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Menurut saya merupakan kombinasi sentimen yang bisa dibilang menjadi double kill bagi pasar,” ujar Elandry saat dihubungi investortrust.id Kamis, (4/6/2026)
Menurutnya, rupiah telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, sementara arus dana asing masih terus keluar, tidak hanya dari pasar saham tetapi juga dari surat utang pemerintah dalam jumlah yang semakin besar.
“Di saat yang sama, pasar juga mendapat sentimen negatif dari outlook Moody's terhadap Danantara,” jelas Elandry.
Sementara dari eksternal, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas sejak semalam. Selain itu, kebijakan tarif terbaru Presiden Trump juga berpotensi menekan sejumlah sektor ekspor Indonesia.
Menurut Elandry, kombinasi berbagai sentimen negatif tersebut kemudian diperparah oleh faktor teknikal berupa panic selling dan efek margin call, sehingga aksi jual semakin besar dan membuat penurunan IHSG menjadi lebih dalam pada perdagangan hari ini.

