Dividend Yield BBRI Lebih Atraktif Dibanding Yield SBN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investasi dalam bentuk saham dengan fundamental bagus akan lebih menguntungkan dibanding di Surat Berharga Negara (SBN), terutama saham yang memberikan dividen tinggi. Sebagai gambaran, dividend yield saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) lebih tinggi dibanding yield SBN tenor 10 tahun.
Selama periode 2023-2025, dividend yield BRI tercatat berada di kisaran 8,2-9,7%. Bahkan saat ini, dividend yield mencapai sebesar 11,45%. Angka ini diperoleh dari perbandingan antara total dividen 2025 (Rp 346/saham) dengan harga saham BBRI sebesar Rp 3.020.
“Bagi investor yang paham, ketika harga anjlok tajam karena sentimen global, maka beli saham BBRI pas lagi rendah, perhitungan ekspektasi dividend yield-nya menjadi naik tinggi. Saat ini dengan dividend yield sekitar 11,45%, kan hampir sama bahkan melampaui kupon obligasi korporat,” kata Moh. Fendi Susiyanto, analis dan pengamat pasar modal senior kepada Investortrust, Selasa (2/6/2026).
Mantan analis BNI Sekuritas itu menyatakan bahwa dividend yield BRI tergolong tinggi dan selalu lebih tinggi dibandingkan yield SBN. Tahun 2023 dividend yield BRI tercatat sebesar 9,7%, tahun 2024 sebesar 9,5%, serta tahun lalu sebesar 8.2%. “Sementara itu, yield SBN dalam lima tahun terakhir berkisar antara 5,8-7,6%,” kata Fendi yang pernah menjadi konsultan di PT Telkom Tbk itu.
Jika seorang investor ritel menginvestasikan uang sebesar Rp 2 miliar di saham BBRI, maka dividend yield yang diperoleh sebesar Rp 235 juta/tahun atau Rp 19,6 juta per bulan, dengan asumsi dividend yield sebesar 11,75%. Sedangkan jika ditanam di SBN tenor 10 tahun dengan yield 6,8%, maka return yang diperoleh hanya Rp 136 juta/tahun atau Rp 11,3 juta per bulan. Itu belum memperhitungkan pajak.
Secara umum, investasi di sejumlah saham unggulan, termasuk BRI, untuk jangka panjang akan sangat menguntungkan. “Ini lah surga investasi di Indonesia bagi yang memahami. Sebenarnya jika masyarakat teredukasi keuangan dengan baik, tentu akan berinvestasi di saham BBRI untuk tujuan jangka panjang ketimbang SUN/SBN,“ kata Fendi.
Fendi Susiyanto lantas merujuk benchmark dividend yield di sejumlah negara yang tergolong rendah. Di antaranya adalah Jerman yang hanya sekitar 2.61%, Swiss 3%, Australia 3.62%, China 2,3%, dan Thailand 4.15%.
Pada 8 Mei lalu, BRI melakukan pembayaran dividen tunai kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025, mandat dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BRI yang digelar pada 10 April 2026.
Total dividen tunai yang dibagikan BRI mencapai Rp 52,1 triliun atau sebesar Rp 346 per saham. Nilai tersebut termasuk dividen interim sebesar Rp 137 per saham atau Rp 20,6 triliun yang sebelumnya telah dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dengan demikian, sisa dividen tunai yang dibayarkan pada 8 Mei 2026 sebesar Rp 209 per saham atau senilai Rp 31,47 triliun.
Yield SBN tenor 10 tahun belakangan mulai menunjukkan tren penurunan ke level 6,7% setelah sempat mendekati 7% pada periode Maret–April 2026. Meski demikian, yield tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan posisi awal tahun 2026 yang berada posisi sekitar 6%. Adapun yield SBN tenor 5 tahun tercatat sebesar 6,781% dan tenor 3 tahun sebesar 6,542%.
Baca Juga
Fundamental Kuat, Kualitas Aset Membaik
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menyatakan bahwa kombinasi dari perbaikan kualitas aset dan efisiensi biaya mendorong peningkatan profitabilitas Perseroan. Return on Assets (ROA) tercatat meningkat menjadi 2,8%, sementara Return on Equity (ROE) naik dari 17,1% pada triwulan I-2025 menjadi 18,4% pada triwulan I-2026.
“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien. Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding, khususnya peningkatan CASA, turut menekan cost of fund. Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh, namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan,” kata Hery pertengahan Mei lalu.
Hingga triwulan I-2026, total aset BRI mencapai Rp 2.250 triliun atau tumbuh 7,2% secara year-on-year (YoY). Di sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan yang solid, meningkat 13,7% YoY menjadi Rp 1.562 triliun.
Didukung oleh fundamental bisnis yang tetap kuat di tengah dinamika industri, pertumbuhan kredit yang selektif, efisiensi biaya dana, serta kualitas aset yang terjaga, BRI berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun atau tumbuh 13,7% YoY.
Hery Gunardi menuturkan bahwa kinerja tersebut ditopang oleh fundamental yang kuat serta konsistensi strategi dalam mendorong pertumbuhan yang sehat dengan tetap menjaga kualitas aset. BRI pun optimistis momentum ini akan terus berlanjut, seiring fokus perseroan pada penguatan digitalisasi, penerapan manajemen risiko yang disiplin, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Ke depan, BRI akan terus mempertegas perannya sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan dengan menjadikan UMKM sebagai pusat pertumbuhan. BRI akan memperkuat ekosistem UMKM secara end-to-end, mulai dari akses pembiayaan, pendampingan usaha, hingga integrasi dengan pasar dan ekosistem digital, sehingga mampu menciptakan pertumbuhan yang tidak hanya inklusif, tetapi juga berkelanjutan.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan harus berjalan seiring dengan dampak yang nyata. Oleh karena itu, setiap langkah transformasi BRIvolution Reignite yang tengah kami lakukan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, tidak hanya bagi perusahaan dan pemegang saham, tetapi juga bagi masyarakat luas,” tutur Hery.
Corporate Secretary BRI Dhanny menambahkan bahwa kebijakan pembagian dividen tersebut tetap memperhatikan keseimbangan antara pemberian nilai tambah bagi pemegang saham dan penguatan struktur permodalan untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Pembagian dividen tersebut mencerminkan komitmen BRI dalam memberikan economic value yang optimal dan berkelanjutan kepada para pemegang saham, sekaligus mencerminkan fundamental yang kuat serta ketahanan kinerja Perseroan yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Dhanny.
Kebijakan dividen BRI mencerminkan pendekatan yang seimbang antara distribusi laba kepada pemegang saham dan penguatan struktur permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Pendekatan ini sejalan dengan strategi BRI dalam memastikan kualitas pertumbuhan positif yang berkelanjutan

