Setelah Aturan Komisi 8%, Bisakah Saham GOTO Bangkit Lagi?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah bertengger di level Rp 50 sejak 5 Mei atau setelah pemerintah resmi menetapkan pembatasan komisi layanan ride-hailing menjadi hanya 8%. Lalu, apakah masih ada peluang pembalikan arah harga sahamnya?
Dipicu kejatuhan harga ke Rp 50 ini, MSCI membekukan rebalancing saham GOTO. MSCI akan membekukan setiap perubahan jumlah saham (NOS), Foreign Inclusion Factor (FIF), Domestic Inclusion Factor (DIF), constraint factors, serta penambahan dan penghapusan saham ini dalam indeks MSCI sebagai bagian dari tinjauan indeks Mei 2026.
Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti mengatakan, munculnya kebijakan pemerintah terkait pembatasan komisi layanan ride-hailing menjadi 8% berpotensi menekan profitabilitas GOTO tahun ini. “Kebijakan berpotesni menekan net take rate On-Demand Services (ODS) sekitar 170 basis poin, sehingga monetisasi dan margin keuntungan, khususnya segmen mobilitas, akan tergerus,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
GOTO Pangkas Komisi GoRide Jadi 8%, Mitra Driver Terima 92% Pendapatan
Berdasarkan estimasi, kebijakan tersebut bisa memicu penurunan pendapatan ODS Mobility sebanyak 35,7% YoY dan menekan net take rate ODS menjadi sekitar 17,2% pada 2026.
Kendati ada risiko jangka pendek, KB Valbury Sekuritas menilai, GOTO masih memiliki teknologi finansial (fintech) sebagai mesin pertumbuhan baru jangka panjang. Monetisasi jangka panjang bisa dicapai melalaui ekspansi layanan dan integrasi ekosistem bisnis.
Hal ini mendorong KB Valbury Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga Rp 58 per saham menggunakan metode valuasi sum of the parts (SOTP). Valuasi tersebut menggunakan metode SOTP dengan asumsi valuasi 1,7x EV/Sales untuk segmen ODS, 4,7x EV/Sales untuk GoPay, 1,9x EV/Sales untuk e-commerce, serta mark-to-market valuation untuk saham PT Bank Jago Tbk (ARTO).
Selain itu, KB Valbury Sekuritas mengungkap, pertumbuhan pengguna ekosistem yang berkelanjutan, GOTO didukung efisiensi dari migrasi cloud dan implementasi kecerdasan buatan (AI). Namun, risiko yang perlu dicermati meliputi persaingan industri yang semakin ketat, tekanan regulasi terhadap take rate, potensi kenaikan kredit bermasalah, serta tekanan jual saham dari pemegang saham pra-IPO dan para pendiri perusahaan.
Baca Juga
Terkait Akuisisi Saham GOTO, Danantara segera Umumkan Game Plan Investasi
Berdasarkan kinerja keuangan kuartal I-2026, segmen ODS mencatat adjusted EBITDA sebesar Rp 439 miliar pada kuartal I-2026 atau tumbuh 40% YoY dan laba bersih pertama mencapai Rp 258 miliar. Margin EBITDA terhadap gross transaction value (GTV) meningkat menjadi 2,7%, tertinggi sepanjang sejarah, dibandingkan 2% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Margin EBITDA terhadap GTV meningkat menjadi 4,9% dari sebelumnya 3,8% pada kuartal I-2025 seiring membaiknya komposisi armada premium. Sementara itu, EBITDA segmen delivery tumbuh 53% YoY menjadi Rp203 miliar dengan margin mencapai 1,9%.
Adapun, segmen fintech melalui GoPay menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan GOTO. Adjusted EBITDA fintech melonjak 674,5% YoY menjadi Rp 364 miliar pada kuartal I-2026. Kinerja itu ditopang ekspansi take rate dan leverage operasional dari pertumbuhan pesat portofolio pinjaman.
Baca Juga
GoTo Akan Buy back Saham Rp 3,5 Triliun, Tujuan Ini Diungkap
Fintech Core GTV tercatat mencapai Rp130,6 triliun atau tumbuh 71,6% YoY, sedangkan pendapatan bersih meningkat 58,3% YoY menjadi Rp1,9 triliun. Jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 27,5 juta atau naik 33% YoY. Volume transaksi juga melonjak 84% YoY, mencerminkan peningkatan frekuensi transaksi per pengguna dan semakin kuatnya keterikatan pengguna terhadap ekosistem platform.
Portofolio pinjaman GoPay mencapai Rp 9,9 triliun atau tumbuh 59% YoY. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah di atas 90 hari stabil di level 0,8%, sementara current loan ratio bertahan di 92%. “Stabilnya rasio kredit bermasalah didukung kemampuan underwriting berbasis data transaksi ekosistem tertutup, seleksi peminjam yang ketat, tenor pinjaman pendek, serta disiplin penagihan,” tulisnya.

