Setelah Nikel, Taipan China "Serbu" Aluminium Indonesia, Bisakah RI Jadi Raja Pasar Global?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Para konglomerat China mempercepat industri aluminium Indonesia melalui proyek bernilai miliaran dolar AS yang menyaingi investasi besar mereka pada sektor nikel sekitar 1 dekade lalu. Hal ini berpotensi mengguncang pasar global alumunium.
Menghadapi pembatasan produksi di China, perusahaan-perusahaan, seperti Tsingshan Holding Group milik miliarder Xiang Guangda, China Hongqiao Group, dan Shandong Nanshan Aluminum milik Song Jianbo, beralih ke Indonesia dengan menanamkan investasi besar untuk pembangunan smelter dan pengolahan baru.
Dilansir Bloomberg, Minggu (13/7/2025), Goldman Sachs memperkirakan produksi aluminium Indonesia dapat meningkat lima kali lipat pada akhir 2030. Kini, para pedagang logam bertanya-tanya apakah modal China dapat terus mengalir ke Indonesia tanpa menekan prospek aluminium yang dikenal boros energi, tetapi dibutuhkan untuk berbagai produk, mulai kaleng minuman, robotika, hingga kendaraan listrik.
Kisah nikel menjadi pelajaran penting. Jika 1 dekade lalu Indonesia hanya menyumbang sekitar 7% produksi tambang global itu, kini angkanya mendekati 60% berkat listrik batu bara murah dan smelter milik China. Meremehkan kenaikan pesat itu, raksasa logam, seperti BHP Group terpaksa menutup operasinya di Australia dan tempat lain. Bahkan industri nikel Indonesia kini mulai kewalahan oleh keberhasilannya sendiri.
"Dalam 5 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi pusat perhatian industri aluminium global," kata Direktur Konsultan Logam CM Group Alan Clark.
Memang, cadangan bauksit Indonesia - bahan baku utama aluminium - tidak sebesar cadangan nikel kadar rendah yang sempat merevolusi industri berkat inovasi teknologi. Namun, jumlahnya tetap cukup untuk mendukung industri smelter besar, didukung tenaga kerja murah dan listrik dari batu bara.
Baca Juga
Resmikan SGAR di Mempawah, Jokowi Ungkap Devisa Rp 50 T Hilang Akibat Impor Alumunium
Bagi para pemimpin Indonesia yang ingin mengembangkan sektor manufaktur guna menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, keberhasilan serupa sangat menarik. Hal ini mendorong Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat itu melarang ekspor bauksit pada 2023. Kebijakan hilirisasi itu dilanjutkan penggantinya, Prabowo Subianto, yang berharap dapat mendanai program-program ambisius, seperti makan siang gratis dan pembentukan sovereign wealth fund raksasa.
Membangun smelter membutuhkan biaya US$ 1 miliar. Meski investasi besar, tetapi banyak perusahaan China bersedia membayar demi mengamankan pasokan bahan baku.
Tahun ini saja, tiga pengolahan alumina baru - bagian penting proses produksi aluminium - akan mulai beroperasi. Setidaknya tiga pengolahan lain diperkirakan akan menyusul sebelum akhir 2027, sehingga kapasitas aluminium Indonesia dapat meningkat lebih lima kali lipat dan membawa negara ini ke jajaran produsen aluminium terbesar dunia, menurut konsultan CRU Group.
Dalam hal smelter, Indonesia juga mencatat kemajuan pesat. Dua smelter sudah beroperasi, dan empat lainnya diproyeksikan akan mulai beroperasi sebelum dekade ini berakhir, kata Goldman Sachs.
Awalnya, pembatasan ekspor bauksit Indonesia mendorong China membeli dari Guinea, produsen terbesar dunia. Namun, Guinea kini menunjukkan dominasinya dengan membatalkan izin tambang perusahaan yang menolak membangun pabrik pengolahan di sana. Langkah itu justru memperkuat tekad China untuk melakukan diversifikasi.
Menurut Presiden Direktur produsen bauksit Laman Mining, Agustinus Tan, beberapa taipan logam China bahkan menawarkan membawa pabrik mereka secara utuh atau memberikan dukungan finansial kepada pemain lokal yang kesulitan pendanaan. "Ada beberapa pabrik yang tutup dan mereka menawarkan untuk membeli mesinnya," kata Tan, yang perusahaannya berencana mulai membangun pabrik pengolahan tahun depan.
Di antara investor besar China adalah Tsingshan, konglomerat baja nirkarat yang memimpin ekspansi sektor nikel Indonesia berkat skala masif dan fokus biaya yang ketat. Smelter aluminium pertamanya mulai beroperasi pada 2023, dan smelter yang jauh lebih besar dijadwalkan mulai produksi tahun depan.
Namun, keberhasilan ini bergantung pada komitmen perusahaan melanjutkan rencana mereka di tengah tekanan ekonomi yang menahan harga aluminium dalam jangka pendek. Analis Citigroup memperkirakan pasokan aluminium global, termasuk dari Indonesia, hanya akan sedikit bertambah jika harga tetap di kisaran US$ 2.500 per ton.
Baca Juga
"Banyak yang percaya sebagian besar rencana ini tidak akan terealisasi," kata analis senior yang pernah bekerja di Rio Tinto dan Antaike, Liu Defei, menyoroti masalah ketersediaan listrik.
Batu bara, yang dimiliki Indonesia dalam jumlah melimpah, kemungkinan besar kembali menjadi sumber tenaga utama industri ini, sebagaimana pada sektor nikel. Namun, yang paling krusial adalah kemampuan Indonesia menambang bauksit untuk memenuhi ambisi para taipan logam China.

