Astra (ASII) Fokus Reposisi Strategi Bisnis, Bagaimana Dampaknya ke Target Harga Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) telah melakukan penajaman strategi dengan menggeser fokus dari model holding yang sangat terdiversifikasi menuju pendekatan portofolio yang lebih terarah dan berorientasi pada imbal hasil (return-driven).
Perseroan menegaskan tiga mesin utama pertumbuhan ke depan, yakni otomotif, jasa keuangan, dan Heavy Equipment, Mining, Construction & Energy (HEMCE), yang secara agregat menyumbang sekitar 90% laba grup. Arah ini dinilai memperkuat kekuatan inti Astra (ASII) di tengah ketidakpastian makroekonomi dan dinamika komoditas.
Baca Juga
Dengan perubahan strategi tersebut, analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Erindra Krisnawan memilih untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 6.850. Target harga tersebut merefleksikan valuasi menarik di level 7,2 kali PE dan dukungan basis pendapatan yang terdiversifikasi.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa dalam hasil review strategisnya, manajemen Astra (ASII) menekankan penguatan bisnis inti, terutama di sektor otomotif yang tidak hanya bertumpu pada penjualan kendaraan baru, tetapi ekspansi ke aftersales, suku cadang, mobil bekas, hingga platform trade-in.
Di sisi lain, terdapat peluang pertumbuhan melalui akuisisi di segmen komponen dan suku cadang, yang berpotensi mendukung PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Sementara itu, pada segmen HEMCE, perseroan mulai mengarah pada diversifikasi ke komoditas, seperti batu bara metalurgi dan emas.
Baca Juga
Dividen dan Buyback Jadi Sentimen, Saham Astra (ASII) Dipatok Target Rp 6.850
Astra (ASII) juga tetap mempertahankan investasi pada portofolio non-inti, seperti kesehatan dan infrastruktur. Selain itu, perseroan mempercepat program replanting di PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi 8 ribu hektare tahun ini dari sebelumnya 4 ribu hektare pada 2025, sekaligus membuka peluang monetisasi aset yang dinilai kurang optimal.
“Langkah ini mencerminkan pendekatan manajemen portofolio yang lebih aktif dan disiplin dalam alokasi modal,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Raih The Best Investortrust Companies 2026 di Tengah Transformasi Digital Telkom Group
Target harga saham ASII tersebut juga merefleksikan target total shareholder return (TSR) teens didukung dividend payout ratio 45–50% serta rencana pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp 8 triliun dalam 12 bulan ke depan. Meski demikian, proyeksi tersebut tidak mengubah estimasi pertumbuhan laba per saham (EPS) perseroan tahun 2026-2028 di level 28,4%, karena sebagian inisiatif masih bersifat jangka menengah.
Terkait pergerakan harga saham ASII terungkap penurunan tajam sebanyak 8,48% menjadi Rp 5.125 pada peradgangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin. Adapun pelemahan harga saham ini sepanjang year to date (ytd) telah mencapai 24,63%. Angka penurunan tersebut maih lebih rendah, dibandingkan penurunan IHSG BEI lebih dari 30% untuk ytd.

