Lepas 8,5 Miliar Saham Baru Lewat Rights Issue, Widodo Makmur Perkasa (WMPP) Siap Bangkit?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) memperoleh dukungan penuh dari para pemegang saham untuk melaksanakan aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Kamis (21/5/2026), para pemegang saham menyetujui rencana strategis tersebut. Perseroan bersiap menerbitkan hingga 8,5 miliar lembar saham baru yang berasal dari portepel perusahaan demi menyuntik modal segar.
Persetujuan mutlak dari para pemegang saham ini menjadi bukti kepercayaan yang kuat terhadap cetak biru bisnis yang dirancang oleh manajemen. Melalui tambahan ekuitas ini, emiten berkode saham WMPP tersebut optimistis dapat menggenjot kembali roda operasionalnya demi mencetak performa finansial yang lebih kuat di masa mendatang.
“Rights Issue merupakan inisiatif Perseroan sebagai langkah strategis dalam memperkuat struktur permodalan dalam rangka mendorong pertumbuhan berkelanjutan dengan meningkatkan kinerja operasional dan keuangan secara lebih efektif dan efisien,” jelas Tumiyono selaku Founder dan CEO WMPP dalam keterbukaan informasi di bursa yang dikutip Minggu (24/5/2026).
Melalui aksi korporasi besar ini, manajemen menargetkan penambahan modal kerja yang melimpah untuk difokuskan pada peningkatan utilisasi fasilitas produksi milik perseroan. Dengan memaksimalkan kapasitas pabrik dan infrastruktur yang ada, volume produksi dan angka penjualan emiten konsumsi ini diharapkan dapat melonjak tajam dalam waktu dekat.
Baca Juga
“Perseroan meyakini bahwa penguatan struktur permodalan melalui aksi korporasi ini akan menciptakan fleksibilitas keuangan dan memperkuat fundamental bisnis yang tecermin dari perbaikan arus kas dan profitabilitas Perseroan. Hal ini tentu akan menjadi nilai tambah bagi para pemegang saham,” ujarnya menambahkan.
Manajemen perseroan menilai penambahan modal lewat rights issue dieksekusi pada momentum yang sangat tepat. Hal tersebut seiring dengan prospek positif dan terbukanya berbagai peluang emas di sektor pangan nasional. Permintaan pasar domestik terhadap komoditas daging sapi dan unggas diproyeksikan akan terus tumbuh positif mulai tahun 2026 dan tahun-tahun seterusnya.
Optimisme pertumbuhan konsumsi daging ini didorong oleh proyeksi kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita masyarakat Indonesia. Angka pendapatan yang saat ini berada di kisaran US$ 5.000 diproyeksikan melonjak dua kali lipat menjadi lebih dari US$ 10.000 pada tahun 2030 mendatang.
“Peningkatan PDB per kapita menunjukkan perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia, artinya konsumsi protein Indonesia diprediksi dapat meningkat lebih cepat. Apalagi, data OECD-FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita untuk daging sapi dan ayam di Indonesia pada tahun 2025 masing-masing baru mencapai 1,69 kg/kapita dan 8,76 kg/kapita. Angka ini jauh lebih rendah dibanding negara tetangga di ASEAN, sehingga ruang tumbuhnya masih sangat luas,” jelas Tumiyono.
Selain dipicu oleh pertumbuhan ekonomi makro secara alami, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh pemerintah dinilai akan berkontribusi besar dalam mendongkrak tingkat konsumsi protein dalam negeri. Dengan adanya dukungan pendanaan kuat dari pemegang saham melalui rights issue serta ditopang oleh strategi ekspansi yang terarah, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. sangat optimistis dapat memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat pertumbuhan bisnis sekaligus meningkatkan daya saing dalam industri pangan nasional.
Sekadar informasi, WMPP menunjukkan perbaikan kinerja sepanjang 2025 dengan berhasil menekan rugi bersih menjadi Rp234,94 miliar. Angka ini turun signifikan 60,6% dibandingkan rugi bersih tahun 2024 yang mencapai Rp596,50 miliar.
Perbaikan ini sejalan dengan lonjakan penjualan konsolidasi yang mencapai Rp1,01 triliun, meningkat 76,6% dari Rp572,92 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi kontribusi bisnis, segmen peternakan unggas (poultry) menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 73,22%. Disusul lini pengolahan daging (meat & processing) sebesar 21,86%, peternakan sapi (cattle livestock) 3%, serta komoditas pertanian (commodity) sebesar 1,92%.

