Terdorong Kebangkitan Hulu Migas, Intip Prospek Kinerja dan Saham Elnusa (ELSA)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan kebangkitan aktivitas hulu migas nasional, seiring ambisi pemerintah meningkatkan lifting minyak hingga 900 ribu–1 juta barel per hari pada 2028–2029.
Target ambisius pemerintah tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ELSA dengan target harga Rp 1.110. Dengan harga penutupan Rp 700 terbuka peluang lompatan harga saham ini hingga 58%.
Target harga tersebut menggambarkan prospek pertumbuhan kinerja keuangna ELSA yang kuat ke depan didukung order book besar, utilisasi aset tinggi, serta peluang ekspansi bisnis melalui skema KSO/LCO dan potensi akuisisi PDSI.
Baca Juga
Kinerja Elnusa (ELSA) Melesat, Volume Transportasi BBM Naik 22% pada Kuartal I 2026
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Andhika Audrey mengatakan, laba bersih ELSA pada 2026 diprediksi bertumbuh 32% secara tahunan, ditopang pemulihan segmen hulu migas yang diproyeksikan mendorong pertumbuhan pendapatan sebesar 11% year on year.
“Target pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak akan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang bagi industri jasa migas, seperti peningkatan aktivitas workover, well intervention, drilling support, seismic, enhanced oil recovery (EOR/IOR), hingga fracturing,” tulis riset tersebut.
Peluang pertumbuhan pesat sudah mulai terlihat dari peningkatan pengeboran sumur pengembangan nasional dengan peningkatan 9,1% secara tahunan menjadi 980 sumur pada 2025. “Bagi ELSA, prospek itu tercermin dari order book sebesar Rp 4,1 triliun per kuartal I-2026. Utilisasi aset hulu migas perseroan juga dinilai solid, dengan 13 unit workover/HWU telah terkontrak penuh, lima unit cementing telah beroperasi, serta dukungan bisnis survei seismik dari proyek Tedong dan potensi 4–6 survei baru sepanjang 2026,” tulisnya.
Selain itu, dia mengatakan, sebagai anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan kepemilikan 51,1%, ELSA dinilai memiliki visibilitas pendapatan yang kuat melalui recurring business dari ekosistem hulu dan hilir Pertamina. Di sisi lain, diversifikasi pendapatan mulai meningkat. Kontribusi pihak ketiga terhadap pendapatan tercatat naik menjadi 23% pada kuartal I-2026 dibandingkan 21,6% pada 2025.
Baca Juga
Logisticsplus (LOPI) Bidik Lompatan Pendapatan dan Laba Pesat Tahun Ini
BRI Danareksa Sekuritas menambahkan katalis penting terhadap saham ELSA datang dari peluang perseroan masuk ke bisnis pengelolaan lapangan migas melalui skema KSO/LCO. Perseroan disebut membidik 3–4 dari sekitar 41 konsesi PHE yang belum dikembangkan, terutama di Jawa Timur.
“Masuknya ELSA ke skema KSO/LCO dinilai berpotensi mengubah model bisnis perseroan dari sekadar kontraktor jasa menjadi operator jasa terintegrasi dengan margin lebih tinggi. Sekitar 60–70% ruang lingkup pekerjaan disebut dapat diserap ke dalam ekosistem jasa milik ELSA sendiri,” tulisnya.
Elnusa (ELSA), terang dia, juga didukung potensi akuisisi PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang bisa menjadi opsi pertumbuhan tambahan. Akuisisi tersebut dinilai dapat memperkuat kapabilitas hulu ELSA melalui tambahan rig pengeboran dan workover yang captive.

