Jelang Rebalancing MSCI, IHSG Sempat Anjlok ke Bawah 6.800 Akibat Risk Off Investor
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar menjelang pengumuman rebalancing MSCI. Sentimen tersebut mendorong investor mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi dan berpotensi terdampak arus keluar dana asing.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG sempat anjlok lebih dari 143 poin menjadi 6.762 pada perdagangan intraday sesi II. Namun hingga pukul 15.35 WIB, pelemahan IHSG mulai mereda tertinggal 65 poin atau 0,95% ke level 6.840.
Baca Juga
BI Rate Diprediksi Naik ke 5% di Semester I 2026 demi Jaga Rupiah
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan, pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik, terutama menjelang hasil review MSCI yang memicu aksi risk off di pasar saham.
“Pasar terlihat cenderung melakukan risk off dan mengurangi eksposur pada saham-saham yang berpotensi terdampak outflow passive fund,” ujar Elandry kepada investortrust.id, Selasa (12/5/2026).
Selain sentimen MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS turut memberikan tekanan terhadap pergerakan pasar saham domestik.
Menurut Elandry, tekanan pasar dalam jangka pendek masih berpotensi berlanjut hingga terdapat kejelasan terkait hasil review MSCI dan stabilisasi aliran dana asing di pasar domestik.
Baca Juga
“Namun di sisi lain, sebagian sentimen negatif MSCI kemungkinan juga sudah cukup priced in dalam beberapa pekan terakhir sehingga peluang technical rebound tetap terbuka apabila tekanan jual mulai mereda,” jelasnya.
Di tengah volatilitas pasar yang meningkat, investor dinilai mulai beralih ke saham-saham defensif dengan fundamental yang lebih solid.
Elandry menilai sektor consumer staples, perbankan big caps, dan telekomunikasi masih menarik untuk dicermati karena relatif lebih tahan terhadap tekanan pasar.
“Sektor consumer staples, perbankan big caps, serta telekomunikasi relatif menarik dicermati karena fundamentalnya masih cukup solid dan defensif terhadap volatilitas pasar. Sementara sektor teknologi dan saham dengan volatilitas tinggi masih berpotensi mengalami tekanan lebih besar dalam jangka pendek,” tutur dia.

