Dorong Literasi Keuangan Digital Berbasis Nilai Budaya, OJK Soroti Potensi Kripto dan Tokenisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, pentingnya literasi keuangan digital tak hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan teknologi, tapi juga pada kebijaksanaan dalam mengambil keputusan keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengungkapkan, masyarakat perlu mengelola keuangan dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, etika, hingga dampaknya bagi keuangan keluarga dan masyarakat luas.
“Keputusan keuangan tidak cukup hanya dihitung untung rugi, tapi juga harus dipikirkan manfaat, risiko, etika, dan dampaknya bagi keluarga maupun masyarakat secara luas,” ujarnya, dalam Digital Financial Literacy IAKD 2026, secara daring, Senin (11/5/2026).
Adi menjelaskan, terdapat empat prinsip pengelolaan keuangan berbasis budaya Jawa yang dapat menjadi bekal penguatan sektor jasa keuangan digital di Indonesia. Prinsip pertama, sangkan paraning dumadi yang dimaknai sebagai pentingnya memiliki arah dan tujuan hidup, termasuk dalam perencanaan keuangan jangka panjang.
Baca Juga
OSL Indonesia Resmi Gabung di ICEx Group, PAKD Pendiri Lainnya Siap Menyusul
Ia mengingatkan masyarakat untuk mulai menyiapkan dana darurat, menabung secara konsisten, hingga berinvestasi sesuai profil risiko sejak dini, termasuk mengenal instrumen baru seperti aset kripto.
“Aset kripto sekarang sudah hadir di Indonesia,” kata Adi.
Prinsip kedua adalah mangan ora mangan asal ngumpul, yang menurutnya mencerminkan pentingnya kolaborasi dan semangat gotong royong dalam ekosistem keuangan digital. Ia mengatakan, perkembangan teknologi blockchain dan kripto ke depan akan membuka peluang tokenisasi berbagai aset, mulai dari emas hingga surat berharga negara (SBN).
“Kita sudah punya selama ini menabung emas, nanti akan akan ada tokenisasi emas. Kita sudah bisa beli SBN di HP, nanti akan ada tokenisasi SBN melalui teknologi blockchain,” ucap Adi.
Prinsip ketiga yang disampaikan Adi adalah gemah ripah loh jinawi yang dikaitkan dengan pentingnya kinerja sektor keuangan yang sehat dan kredibel. Masyarakat dinilai perlu mengedepankan perilaku keuangan yang produktif dan memahami risiko investasi, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
Baca Juga
CFX Ungkap Deretan Aset Kripto Terlaris dan Berkinerja Terbaik April 2026, Apa Saja?
Ia mengimbau masyarakat harus bisa memilah mana investasi yang legal dan mana yang ilegal, mana yang memberikan manfaat dan mana yang justru menjadi mudarat. Adi juga mengingatkan pentingnya diversifikasi investasi agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu instrumen keuangan.
Sementara, prinsip keempat adalah ajining diri saka lathi yang berkaitan dengan integritas dan tata kelola dalam sektor jasa keuangan. Ia menyatakan, industri keuangan hanya dapat tumbuh apabila didukung kepercayaan publik, sehingga pelaku usaha jasa keuangan harus menjunjung transparansi dan tanggung jawab.
“Keuangan hanya dapat tumbuh apabila ada trust, ada kepercayaan, dan oleh karena itu literasi keuangan digital masyarakat ini perlu didorong untuk terus bersama-sama mewujudkan hadirnya kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab secara bersama-sama,” ujar Adi.
Di lain sisi, ia juga mengingatkan masyarakat agar menjaga keamanan data pribadi di era digital dan tidak sembarangan membagikan PIN, OTP, maupun password.
“Data pribadi adalah amanah yang harus dijaga dan itu perlu untuk penyelenggaraan trust dan perlindungan kepada konsumen yang baik di dalam kerahasiaan dan juga di dalam kredibilitas nasabah, akan menjadi bagian terpenting dalam tata kelola yang baik dalam industri sektor jasa keuangan kita,” kata Adi.
Sebagai bagian dari peningkatan pemahaman masyarakat terhadap industri keuangan digital, OJK terus menyelenggarakan program Digital Financial Literacy di berbagai daerah seperti Ambon, Solo, Yogyakarta, Bandung, hingga Purwokerto.
“Oleh karena itu, pertama-tama kita harus perkuat literasi dan mahasiswa menjadi aktor yang akan menjadi pengguna masa depan sektor jasa keuangan jasa keuangan, khususnya di bursa kripto,” ucap Adi.

