Sampah Jadi Emas: OASA Bidik Ledakan Bisnis Waste-to-Energy Didukung Perpres dan Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tumpukan sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan nasional mulai berubah menjadi ladang bisnis energi baru yang menjanjikan. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) disebut berada di posisi strategis untuk menangkap peluang besar sektor waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik, seiring kuatnya dukungan regulasi pemerintah dan keterlibatan Danantara dalam pengembangan proyek energi hijau nasional.
Dalam riset bertajuk “Waste to Wealth” yang dirilis Samuel Sekuritas Indonesia (SSI Research), Kamis (08/05/2026), OASA dinilai akan mengalami pertumbuhan signifikan di sektor energi terbarukan berbasis pengolahan sampah menggunakan teknologi insinerasi.
Analis SSI Research Juan Harahap dan Ahnaf Yassar menyebutkan bahwa transformasi strategis OASA menuju bisnis solusi energi hijau menempatkan perseroan pada momentum yang tepat untuk memanfaatkan peluang waste-to-energy di Indonesia.
Baca Juga
Menurut laporan tersebut, Indonesia menghadapi tekanan lingkungan dan keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah yang semakin berat. Produksi sampah nasional diperkirakan mencapai sekitar 37,3 juta ton per tahun, dengan sekitar 67,8% di antaranya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa proses pengolahan.
Kondisi tersebut membuka ruang pertumbuhan besar bagi industri pengolahan sampah menjadi energi, terutama setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 yang dianggap menjadi titik balik penting bagi keekonomian proyek waste-to-energy nasional.
SSI Research menilai regulasi baru tersebut memperkuat daya tarik investasi melalui penetapan tarif listrik tetap sebesar US$0,20 per kWh, kepastian kontrak jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA) selama 30 tahun, serta dukungan yang lebih jelas dari berbagai pemangku kepentingan seperti PLN, pemerintah daerah, dan Danantara.
“OASA berada dalam posisi yang tepat untuk menangkap peluang WtE karena adanya dukungan regulasi yang kuat dan kebutuhan mendesak Indonesia dalam pengelolaan sampah,” tulis SSI Research dalam laporannya.
Baca Juga
Untuk mendukung ekspansi bisnis tersebut, OASA diperkirakan membutuhkan pendanaan sekitar US$74 juta. Dari total kebutuhan dana itu, sekitar US$52 juta akan berasal dari pinjaman (debt financing), sedangkan US$22 juta direncanakan berasal dari penerbitan saham baru atau rights issue.
Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan proyek waste-to-energy di wilayah Jabodetabek, terutama di Tangerang Selatan dan Jakarta Barat.
Dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Tangerang Selatan, OASA tercatat memiliki total partisipasi sebesar 76%, dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.100 ton sampah per hari dan potensi produksi listrik sekitar 25 megawatt (MW).
Selain itu, OASA juga terlibat dalam proyek skala lebih besar di Jakarta Barat dengan kepemilikan sekitar 28%, yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 2.000 ton sampah per hari.
Kedua proyek tersebut diperkirakan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Baca Juga
Zulhas Ungkap Ditelepon Prabowo Tiap Minggu soal Masalah Sampah di Jakarta
Optimisme pasar terhadap transformasi bisnis OASA tercermin dari pergerakan saham perseroan yang melonjak sekitar 63,6% secara year to date (YTD) sepanjang tahun ini.
SSI Research menilai lonjakan tersebut mencerminkan ekspektasi investor terhadap potensi keuntungan besar bisnis waste-to-energy di masa depan.
Dari sisi fundamental, OASA diperkirakan mampu menghasilkan tambahan EBITDA sekitar Rp250 miliar atau setara US$14,4 juta. Jika proyek Tangerang Selatan dapat beroperasi dengan tingkat utilisasi sekitar 80% pada 2029, perseroan berpotensi membalikkan kondisi rugi bersih menjadi laba bersih positif.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Persoalan Sampah Jadi Prioritas Nasional, Targetkan Tuntas dalam 2 Tahun
Selain itu, OASA juga disebut aktif mengikuti gelombang kedua tender proyek waste-to-energy yang didorong Danantara, setelah PT Binakarya Jaya Abadi Tbk (BIPI) mengakuisisi 20% saham salah satu anak usaha perseroan.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sektor waste-to-energy mulai bergerak dari sekadar isu lingkungan menjadi salah satu tema investasi strategis baru di Indonesia.
Di tengah tekanan kapasitas TPA, urbanisasi yang terus meningkat, dan tuntutan transisi energi hijau, sampah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi juga sumber energi dan potensi ekonomi masa depan.

