Carmelita Hartoto Jadi Komisaris PT Maharaksa Biru Energi (OASA)
JAKARTA, investortrust.id – Pengusaha transportasi laut dan pengurus Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto, diangkat sebagai komisaris PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), perusahaan yang bergerak di bisnis biomassa. Selain itu, Maharaksa mengangkat Cendy Hadiputranto sebagai direktur keuangan.
Mereka terpilih dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Kamis (30/11/2023).
Selain masih menjabat CEO PT Andhika Lines, Carmelita Hartoto menjabat pimpinan sejumlah perusahaan serta duduk sebagai Wakil Ketua Umum Kordinator IV Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Ristek dan Inovasi Kadin Indonesia.
Sementara Cendy Hadiputranto pernah menjabat sebagai Managing Director PT Mitra Berlian Unggas, Chief Financial Officer PT Cashiez Worldwide Indonesia Tbk, Associate Director PT Danareksa Investment Management, dan Direktur di PT Digital Artha Media.
Direktur Utama PT Maharasaksa Biru Energi Tbk, Bobby Gafur Umar, menegaskan, perseroan terus melaju dengan bisnis energi terbarukan. Sejumlah proyek pengembangan biomassa sudah disepakati untuk segera dibangun dan siap beroperasi paling lambat kuartal pertama 2024. Beberapa lagi siap dioperasikan 2025. Seluruh proyek energi terbarukan tersebut diharapkan dapat semakin menebalkan kocek perseroan, sekaligus membantu pemerintah dalam memacu pengembangan energi bersih, khususnya yang berbasis biomassa.
“Beroperasinya semua pabrik tersebut sekaligus menjadikan OASA sebagai salah satu pemain utama bisnis biomassa di dalam negeri,” kata Bobby.
Tahun depan, menurut dua pabrik berbasis biomassa dan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBM) milik perseroan di pulau Bangka, Sumatera bagian selatan, akan diresmikan.
Unit PLTBM di pulau Bangka yang berlokasi di kabupaten Bangka Selatan, juga sama, diharapkan mulai menghasilkan listrik pertengahan 2024. Dijelaskan oleh Bobby, pengembangan energi bersih di pulau Bangka digarap selaras dengan pabrik biomassa berbasis limbah perkebunan, kehutanan dan pertanian.
Rencana selanjutnya yang menurut Bobby akan segera diwujudkan adalah pembangunan pabrik biomassa berbasis limbah pertanian di daerah Blora (Jawa Tengah) dan Banten. Keduanya berkapasitas 5.000 ton per tahun untuk tahap pertama. “Daerah Blora memiliki potensi limbah kehutanan dan limbah pertanian untuk produksi bio-energi,” kata Bobby.
Menurut dia, pabrik di Blora diharapkan akan menghasilkan biomassa yang nantinya akan dipasok sebagai bahan co-firing untuk PLTU Rembang, pertengahan 2024. Pabrik ini dibangun dengan investasi Rp 50 miliar. Selain itu, dengan potensi limbah kehutanan dan limbah pertanian yang berlimpah, pabrik bio-energi di daerah ini akan menghasilkan bio-LNG (bio liquid natural gas) yang rencananya akan diekspor ke Jepang.
Bobby berharap semua proyek yang diharapkan sudah berjalan paling lambat pertengahan tahun 2024 tersebut, akan mampu menambah tebal kocek perseroan. “Kami berharap, pertengahan tahun depan semuanya akan memberikan kontribusi pendapatan ke dalam kas perseroan,” ujarnya.

