Bitcoin Cetak Harga Tertinggi Tiga Bulan, Pasar Masuk Fase Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan pasar global setelah sempat berhasil menembus level psikologis US$ 82.000 dan mencetak harga tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Reli ini menandai perubahan struktur pasar yang signifikan, dari fase konsolidasi panjang di area US$ 65.000–US$ 75.000 menuju breakout yang didorong oleh kombinasi permintaan institusional, dinamika derivatif, dan ekspektasi makroekonomi global yang mulai berubah.
Sayangnya usai menanjak ke US$ 82.749 pada Rabu (6/5/2026) pukul 18.25 WIB, harga koin nomor wahid ini mulai kehabisan tenaga dan beralih ke zona merah. Menilik data Coinmarketcap, Kamis (7/5/2026) pukul 17.30 WIB, harga BTC diperdagangkan di level US$ 80.597, melemah 1,88% dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini turut menyeret kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi US$ 1,61 triliun atau turun 1,57%. Namun di tengah pelemahan harga, aktivitas perdagangan masih cukup tinggi dengan volume transaksi harian mencapai US$ 37,91 miliar meski turun 8,37%, sementara rasio volume terhadap kapitalisasi pasar tercatat sebesar 2,34%. Adapun total suplai Bitcoin saat ini berada di level 20,02 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC, dengan treasury holdings mencapai 1,27 juta BTC.
Tim Trading Desk FLOQ menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini bukan sekadar lonjakan spekulatif jangka pendek, melainkan refleksi dari meningkatnya keyakinan pasar terhadap Bitcoin sebagai aset alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi tinggi, serta meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset dengan karakteristik supply terbatas.
“Pergerakan BTC kali ini berbeda dibanding reli jangka pendek sebelumnya. Pasar mulai menunjukkan struktur akumulasi yang lebih sehat, terutama dengan masuknya institusi besar melalui Spot Bitcoin ETF. Namun di sisi lain, volatilitas masih sangat tinggi dan investor tetap perlu memperhatikan area resistance dan support yang menjadi penentu arah pasar beberapa minggu ke depan,” ujar Tim Trading Desk FLOQ dalam siaran pers, Kamis (7/5/2026).
Salah satu katalis terbesar di balik kenaikan Bitcoin adalah derasnya arus masuk ke Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat. Dalam 48 jam pertama awal Mei 2026 saja, pasar mencatat lebih dari US$ 1 miliar net inflow ke produk ETF Bitcoin.
BlackRock melalui produk iShares Bitcoin Trust (IBIT) tercatat melakukan pembelian senilai US$ 284,4 juta pada 2 Mei 2026, memperkuat sentimen bahwa institusi global masih terus melakukan akumulasi terhadap Bitcoin meski harga sudah bergerak signifikan.
Masuknya dana institusional ini terjadi ketika cadangan Bitcoin di exchange global berada di level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Kondisi tersebut menciptakan apa yang dikenal sebagai supply shock, situasi ketika ketersediaan aset di pasar spot semakin terbatas sehingga tekanan beli kecil sekalipun mampu mendorong harga naik lebih agresif.
Selain faktor institusional, reli BTC juga diperkuat oleh tekanan besar di pasar derivatif. Di mana, Bitcoin menembus US$ 80.000, funding rate pasar futures sempat berada di area negatif yang menunjukkan dominasi posisi short dari trader. Ketika harga mulai breakout, lebih dari US$ 300 juta posisi short dilikuidasi hanya dalam waktu 24 jam.
Fenomena ini menciptakan efek short squeeze, di mana trader yang sebelumnya bertaruh pada penurunan harga dipaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka, sehingga mempercepat kenaikan harga.
“Reli seperti ini sering kali diperkuat oleh struktur derivatif. Ketika terlalu banyak posisi short menumpuk dan pasar bergerak berlawanan, liquidations justru menjadi bahan bakar tambahan untuk kenaikan harga,” tambah Tim Trading Desk FLOQ.
Baca Juga
Bitcoin Pizza Day hingga Upgrade Solana, Simak Sentimen yang Gerakkan Pasar Kripto Bulan Ini
Pengaruh Makro Global
Meski Bitcoin menunjukkan kekuatan bullish, arah pasar masih sangat dipengaruhi kondisi makro global. Harga minyak dunia yang bertahan di kisaran US$ 103–US$ 108 per barel meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan membatasi ruang Federal Reserve untuk melakukan pemangkasan suku bunga agresif dalam waktu dekat.
Di sisi lain, meningkatnya risk appetite investor global terlihat dari penguatan indeks saham internasional seperti MSCI AC Asia Index dan kenaikan pasar saham Amerika Serikat yang bergerak sejalan dengan reli Bitcoin.
Namun, kekuatan dolar AS tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Secara historis, penguatan indeks dolar (DXY) sering memberikan tekanan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya, termasuk memicu pullback jangka pendek seperti yang terjadi setelah BTC menyentuh area US$ 82.800.
Sementara itu, altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP, dan BNB juga ikut mengalami penguatan. Meski demikian, dominasi Bitcoin di pasar kripto global terus meningkat dan kini berada di kisaran 58,6%–61,2%, menunjukkan bahwa sebagian besar arus modal masih terfokus pada BTC.
Sentimen jangka panjang pasar saat ini masih didominasi optimisme, terutama setelah munculnya perkembangan regulasi positif di Amerika Serikat. Pelaku pasar menaruh perhatian besar terhadap pembahasan CLARITY Act dan potensi regulasi struktur pasar kripto di Senat AS, yang dinilai dapat memberikan kepastian hukum lebih jelas bagi industri aset digital.
Beberapa institusi dan analis global bahkan mulai mengeluarkan proyeksi agresif terhadap Bitcoin, dengan target harga mulai dari US$189.000 pada akhir 2026 hingga potensi mencapai US$ 1 juta dalam lima tahun mendatang.
Baca Juga
Bitcoin Terkoreksi ke US$ 81.000-an Setelah Cetak Rekor Baru Siklus 2026
Namun pasar juga mulai memperhatikan perubahan strategi dari MicroStrategy, yang sebelumnya dikenal dengan pendekatan “never sell Bitcoin.” Wacana bahwa perusahaan tersebut berpotensi menjual sebagian kepemilikan BTC untuk mendanai pembayaran dividen menjadi variabel baru yang memicu profit taking jangka pendek setelah BTC menyentuh US$ 82.800.
Menurut CEO FLOQ Yudhono Rawis pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset digital semakin diterima sebagai bagian dari strategi diversifikasi global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
“Kami melihat pergerakan Bitcoin saat ini bukan lagi sekadar driven by retail speculation semata. Arus dana institusional yang terus masuk melalui Spot Bitcoin ETF menunjukkan bahwa Bitcoin mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset global, terutama di tengah ketidakpastian makro, inflasi, dan perubahan arah kebijakan moneter dunia,” ujar Yudhono.
Ia menambahkan bahwa volatilitas akan tetap menjadi bagian alami dari pasar kripto, sehingga edukasi dan disiplin strategi menjadi faktor penting bagi investor.
“Di saat yang sama, volatilitas tetap menjadi bagian alami dari pasar kripto. Karena itu, edukasi dan penggunaan strategi trading yang disiplin menjadi sangat penting. Kami melihat semakin banyak investor Indonesia yang mulai memahami pentingnya risk management, penggunaan fitur seperti Limit Order, serta pendekatan investasi yang lebih terukur dibanding hanya mengikuti momentum pasar," kata ia.
Menurutnya, perkembangan regulasi global dan meningkatnya adopsi institusional dapat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri aset digital dalam jangka panjang.
“Pasar saat ini mulai bergerak menuju fase yang lebih matang. Regulasi yang lebih jelas, keterlibatan institusi besar, dan peningkatan literasi investor menjadi kombinasi yang dapat memperkuat ekosistem kripto secara global maupun di Indonesia,” pungkas Yudhono.
Area Penting yang Perlu Diperhatikan Trader
Dalam jangka pendek 1–2 minggu ke depan, area US$ 82.000 dinilai menjadi level paling krusial bagi Bitcoin karena merupakan rata-rata harga beli banyak investor Spot ETF.
Tim Trading Desk FLOQ menilai, area ini akan menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan reli menuju fase bull cycle baru atau justru mengalami koreksi lebih dalam.
Jika BTC mampu bertahan di atas area US$ 79.000–US$ 80.000 dan berhasil breakout bersih dari US$ 84.000, maka peluang menuju US$ 87.000 hingga US$ 90.000 akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan BTC kehilangan area US$ 74.000, pasar berpotensi mengalami koreksi lebih dalam menuju US$ 67.000.
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, FLOQ mengingatkan investor untuk tetap mengedepankan strategi manajemen risiko dan tidak melakukan keputusan investasi berdasarkan FOMO semata. “Volatilitas tinggi selalu menghadirkan dua sisi: risiko dan peluang. Yang membedakan hasil akhirnya adalah disiplin strategi, pengelolaan risiko, dan kemampuan investor membaca struktur pasar dengan lebih objektif,” tutup Tim Trading Desk FLOQ.

