Bagikan

Bitcoin Terkoreksi ke US$ 81.000-an Setelah Cetak Rekor Baru Siklus 2026

Poin Penting

Bitcoin sempat menyentuh level US$82.749 pada 6 Mei 2026 sebelum kembali melemah ke US$81.219,89.
Penguatan Bitcoin didorong oleh arus masuk ETF Bitcoin spot yang terus berlanjut, sentimen risk-on pasar global, serta berkurangnya saldo BTC di bursa yang mengindikasikan investor mulai menyimpan aset di cold wallet.
Vice President INDODAX Antony Kusuma menilai penguatan Bitcoin mencerminkan minat institusional yang tetap kuat.

JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) sempat tembus ke US$ 82.749, menurut data dari Coinmarketcap pada Rabu (6/5/2026) pukul 6.25 WIB. Pada pasangan perdagangan Binance USDT, mata uang kripto terkemuka ini menandai level psikologis dan teknis yang signifikan bagi pasar.

Sementara itu, Bitcoin harganya mulai melemah dan pada Kamis (7/5/2026) BTC diperdagangkan di level US$ 81.219,89. Berdasarkan data pasar terbaru, kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat mencapai US$ 1,62 triliun dengan kenaikan 0,03%, sementara volume perdagangan harian melonjak 7,04% menjadi US$ 42,12 miliar. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar berada di level 2,58%, mencerminkan aktivitas transaksi yang masih cukup aktif di tengah konsolidasi harga. Adapun total suplai Bitcoin saat ini mencapai 20,02 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC, dengan treasury holdings tercatat sebesar 1,27 juta BTC.

Pergerakan di atas US$ 82.000 terjadi setelah periode konsolidasi dan tekanan beli yang diperbarui. Bitcoin telah berada pada lintasan naik, didorong oleh kombinasi arus masuk institusional, perkembangan regulasi yang positif, dan faktor makroekonomi yang lebih luas. Penembusan level ini patut diperhatikan karena mewakili titik tertinggi baru dalam siklus saat ini, menarik perhatian dari pedagang ritel dan institusional.

Beberapa faktor tampaknya berkontribusi pada kenaikan Bitcoin terbaru. Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot terus mengalami arus masuk bersih, menandakan permintaan berkelanjutan dari pelaku keuangan tradisional. Selain itu, komentar dari para pembuat kebijakan utama dan sentimen risk-on secara umum di pasar global telah memberikan dorongan bagi mata uang kripto. Data on chain juga menunjukkan penurunan saldo bursa, yang menunjukkan bahwa investor memindahkan koin ke penyimpanan dingin, sebuah sinyal bullish historis.

Baca Juga

Didorong Dana ETF dan Short Squeeze, Harga Bitcoin Sempat ke US$ 81.500

Bagi trader, level US$ 82.000 sekarang berfungsi sebagai zona support baru yang perlu diperhatikan. Bertahannya harga di atas level ini dapat membuka jalan menuju level resistance utama berikutnya. Namun, pelaku pasar harus tetap waspada terhadap potensi volatilitas, karena pergerakan harga yang cepat seringkali menyebabkan aksi ambil untung dan likuidasi. Tren secara keseluruhan tetap positif, tetapi koreksi jangka pendek adalah bagian normal dari setiap tren naik.

Secara terpisah, Vice President INDODAX Antony Kusuma menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan dinamika pasar yang semakin kompleks dan berkembang.

“Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang unik karena mendapatkan dorongan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ia bergerak mengikuti sentimen pasar global, namun di sisi lain juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini mengindikasikan adanya momentum positif di pasar, namun tetap perlu dianalisis secara cermat dinamika yang terjadi di pasar,” ujar Antony dalam siaran pers dikutip Kamis (7/5/2026).

Baca Juga

Harga Bitcoin Bergerak di Kisaran US$ 80.000, Pelaku Pasar Waspadai Level Psikologis Baru

Selain itu, data pada CoinMarketCap menunjukkan bahwa total aset dalam ETF Bitcoin kini berada di kisaran US$ 105 miliar. Hal ini mencerminkan meningkatnya partisipasi serta kepercayaan investor institusional yang turut menjadi salah satu faktor penting dalam menopang pergerakan pasar.

Antony menambahkan bahwa momentum penguatan ini mulai mencerminkan kecenderungan bullish di pasar, meskipun masih berada dalam fase yang perlu dicermati secara hati-hati. Kenaikan harga yang didukung oleh arus dana institusional dan sentimen global menunjukkan bahwa minat terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, masih cukup kuat.

Namun, keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada konsistensi likuiditas pasar serta perkembangan faktor eksternal, seperti kondisi makroekonomi dan dinamika geopolitik global. Oleh karena itu, volatilitas tetap menjadi karakter utama aset kripto yang perlu dipahami investor dalam mengambil keputusan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024